9 C
New York
Senin, Maret 27, 2023

Punya ‘Senjata’ Baru Putin Akan Lawan AS Cs

Hubungan diplomatik antara Rusia dengan Negara-negara Barat kian memburuk gegara perang di Ukraina. Bahkan, Rusia telah memberlakukan larangan ekspor minyak kepada blok negara-negara pimpinan Amerika Serikat (AS) itu karena mereka telah menjatuhkan sanksi pada Moskow. Namun, menurut analisa dari Citigroup, larangan ekspor yang akan dijatuhkan Rusia akan meluas tak hanya untuk komoditas energi. Moskow diprediksi dapat mempersenjatai ekspor logam penting seperti aluminium dan paladium.

Pembatasan seperti itu akan mengganggu operasi produsen di seluruh dunia, bahkan Indonesia. Hal ini juga dapat mendorong inflasi, yang saat ini sebenarnya sudah tinggi. “Sekitar 15% aluminium yang diperdagangkan berasal dari Rusia, logam yang banyak digunakan dapat ditemukan di pesawat dan produk mulai dari peralatan rumah tangga hingga foil dan peralatan dapur.” AS telah mengumumkan tarif 200% untuk impor logam dari Rusia. Ini mulai berlaku mulai Jumat lalu.

Selain aluminium, output palladium Rusia, yang digunakan dalam perangkat yang membatasi emisi dari mobil, juga memiliki peranan global yang besar dengan menyumbang sekitar seperempat dari pasokan seluruh dunia. Moskow telah menunjukkan kesiapan untuk menggunakan sumber daya alam Rusia yang besar untuk membalas Barat, yang telah memberlakukan deretan sanksi pada Moskow sebagai tanggapan atas serangan yang diperintahkan Presiden Vladimir Putin ke Ukraina setahun yang lalu.

Misalnya, tahun lalu Rusia melakukan pemotongan besar-besaran pada ekspor gas alamnya ke Eropa, pelanggan utamanya. Itu memaksa pemerintah di Benua Biru untuk meningkatkan upaya menemukan pemasok baru. Rusia juga dituduh mempersenjatai pasokan pangan global dengan memblokir pelabuhan Laut Hitam Ukraina dalam beberapa bulan pertama perang dan menargetkan infrastruktur pertanian. Pasalnya, ini mengganggu pasokan biji-bijian ke pasar dunia dan memicu kenaikan harga komoditas itu. Peran Rusia dalam industri tenaga nuklir global juga berada di bawah pantauan. Negara ini adalah pengekspor utama bahan bakar nuklir dan sektor nuklirnya sejauh ini sebagian besar lolos dari sanksi Barat.

Baca Juga:  Penjelajah Waktu Meramal Tanggal Perang Dunia 3

berita SERUPA

Terbaru