6.9 C
New York
Sabtu, Februari 24, 2024

Fenomena Resesi Seks Di Jepang Menyebabkan Berkurangnya Penduduk Sampai 25 Juta

Fenomena ‘resesi seks’ masih terjadi di Jepang hingga saat ini. Dimana populasi di Jepang diprediksi bakal terus menurun hingga di bawah 100 juta. Proyeksi dari Institut Riset Kependudukan dan Jaminan Sosial Nasional Jepang, populasi negeri sakura bakal di bawah 100 juta pada tahun 2056. Dengan melihat populasi Jepang yang saat ini ada di kisaran 124,62 juta maka pada 2056 atau dalam 33 tahun mendatang, penduduk Jepang akan berkurang sekitar 25 juta.

Sementara jumlah kelahiran akan turun di bawah 500.000 pada tahun 2059 jika jumlah kelahiran per wanita secara garis besar tidak berubah. Jepang mungkin menjadi lebih lemah sebagai bangsa jika populasinya menyusut. Kebijakan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dalam menghadapi populasi yang menurun perlu segera diimplementasikan untuk menghindari nasib tersebut. Untuk diketahui, perkiraan populasi Jepang direvisi setiap lima tahun, berdasarkan sensus nasional. Revisi terbaru adalah yang pertama dalam 6 tahun, karena pandemi Covid-19.

Sebelumnya pada tahun 2017 riset kependudukan tersebut memperkirakan populasi Jepang akan turun di bawah 100 juta pada tahun 2053, angka ini tiga tahun lebih awal dari perkiraan terbaru. Perubahan tersebut dilakukan karena semakin banyaknya warga negara asing yang masuk ke Jepang yang diperkirakan meningkat menjadi 160.000 per tahun dari 70.000 per tahun, menggunakan rata-rata dari tahun 2016 hingga 2019. Melihat hanya pada populasi kelahiran asli, jumlah orang diperkirakan turun di bawah 100 juta pada tahun 2048, satu tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

Meskipun laju penurunan sedikit melambat, warga negara asing diharapkan menjadi bagian yang lebih besar dari populasi. Total populasi pada tahun 2070 diperkirakan mencapai 87 juta, turun dari sekitar 126 juta saat ini, dengan satu dari setiap sembilan orang adalah warga negara asing. Proyeksi garis tengah untuk angka fertilitas total, atau jumlah rata-rata kelahiran per wanita, direvisi turun menjadi 1,36 dari 1,44 pada estimasi sebelumnya, mencerminkan penurunan angka kelahiran.

Baca Juga:  Viral Polisi Jepang Tahan Tiga Orang Gegara Teror Sushi

Dengan ini, Itu ada 496.000 kelahiran di Jepang pada tahun 2059. Jumlah kelahiran di Jepang turun di bawah 1 juta pada tahun 2017 dan di bawah 800.000 pada tahun 2022. Komposisi demografi negara juga akan semakin diwarnai oleh turunnya angka kelahiran dan penuaan penduduk. Pangsa populasi di bawah 14 tahun akan turun di bawah 10% pada tahun 2050, menurun menjadi sekitar 10,4 juta orang dari 15 juta pada tahun 2020. Pertumbuhan ekonomi Jepang juga akan dipengaruhi oleh pergeseran demografi.

Sebuah laporan tahun 2020 oleh konsultan internasional McKinsey & Co. mencatat bahwa Jepang perlu meningkatkan produktivitas tenaga kerjanya 2,5 kali lipat pada tahun 2030 untuk mempertahankan tingkat pertumbuhannya saat ini. Fenomena ‘Resesi Seks’ Masih Mengancam Jepang Selain itu Jepang juga masih dihadapkan pada fenomena resesi seks yang bisa berdampak pada krisis populasi. Istilah ‘resesi seks’ secara spesifik mengacu pada turunnya mood pasangan melakukan hubungan seksual, menikah dan punya anak.

Pada akhirnya, resesi seks bisa berimbas pada penurunan populasi suatu negara, karena kondisi rendahnya angka perkawinan dan keengganan untuk berhubungan seks. Melansir dari Reuters, awal April lalu hanya ada dua orang siswa bernama Eita Sato dan Aoi Hoshi menjadi satu-satunya dan lulusan terakhir di SMP Yumoto, di Desa Ten-ei, Prefektur Fukushima, utara Jepang. SMP itu sendiri akan ditutup secara permanen, setelah 76 tahun berdiri. Fenomena tutupnya sekolah terjadi akibat angka kelahiran di Jepang anjlok lebih cepat dari yang diperkirakan.

Jumlah ini meningkat terutama di daerah pedesaan seperti Ten-ei, area ski pegunungan dan mata air panas di prefektur Fukushima yang telah merasakan depopulasi. Fenomena ini memberikan pukulan telak bagi sekolah umum yang lebih kecil. Padahal ini seringkali menjadi jantung kota dan desa pedesaan. Menurut data pemerintah, sekitar 450 sekolah tutup setiap tahun. Antara tahun 2002 dan 2020, hampir 9.000 sekolah menutup pintu mereka selamanya, sehingga sulit bagi daerah terpencil untuk memikat penduduk baru yang berusia lebih muda.

Baca Juga:  AS-China Memanas Karena Perang Dagang, Jepang Ikut Terseret

Pemerintah Jepang tentunya tak tinggal diam dengan fenomena ini.Perdana Menteri Fumio Kishida telah menjanjikan langkah-langkah untuk meningkatkan angka kelahiran. Termasuk menggandakan anggaran untuk kebijakan terkait anak. Ia juga mengatakan menjaga lingkungan pendidikan sangat penting. Sayangnya sedikit yang telah membantu sejauh ini. Selain itu, pemerintah juga mengupayakan dengan memberikan layanan kecerdasan untuk menjodohkan warganya, layanan ini dapat digunakan untuk menemukan pasangan yang cocok. Populasi warga Jepang mencapai puncak pada 2011 dengan jumlah menembus 127,83 juta.

Setelah itu, populasi Jepang terus menurun drastis hingga mencapai 124,62 juta seperti saat ini. Berbanding terbalik dengan jumlah populasi yang turun, angka perjaka di Jepang saat ini sedang meningkat. Informasi itu diberitakan Japan’s National Fertility Survey, dimana 1 dari 10 pria Jepang di umur 30-an tahun masih perjaka. Kemudian, survei yang dilakukan National Institute of Population dan Social Security Research ditemukan bahwa, hampir seperlima pria Jepang dan 15% wanita tidak tertarik menikah. Angka tersebut adalah yang tertinggi sejak 1982. Hampir sepertiga pria dan seperlima wanita Jepang di usia 50-an tak pernah menikah.

Menurut pakar dari Harvard, Mary Brinton, meningkatnya angka perjaka dapat dibendung dengan usaha yang efektif, seperti menyeimbangkan antara waktu kerja dan keluarga. Populasi Jepang akan menurun hingga separuh dari populasi yang ada jika dalam setengah abad tren semacam resesi seks tak bisa diatasi. Pemerintah Jepang mencatat total tingkat kesuburan di Jepang terus menurun selama bertahun-tahun. Pada 2005, statistik sempat pulih dari tingkat terendah melalui angka 1,26 pada 2005. Lalu, pada 2021 tingkat tersebut meningkat di angka 1,30. Namun, pada 2021 juga jumlah kelahiran bayi di Jepang mencapai titik terendah, yaitu 811.622.

Baca Juga:  Andrey Botikov Seorang Ilmuwan Rusia Penemu Vaksin COVID-19 yang Tewas Dibunuh

berita SERUPA

Terbaru