bengkelsastra.com – Setelah menyuarakan ketidakpuasan terhadap potret dirinya yang dipajang di Gedung Capitol negara bagian Colorado, Donald Trump akhirnya berhasil mengganti lukisan tersebut. Kini, potret barunya terpajang megah dengan bingkai emas yang mengilap, sesuai permintaannya langsung.
Lukisan ini muncul sebagai pengganti versi sebelumnya yang menuai kontroversi karena dianggap memperburuk citra Trump. Kini, lukisan baru hasil karya Vanessa Horabuena asal Tempe, Arizona, menampilkan sosok Trump yang lebih tua dan berwibawa. Potret ini hampir menyerupai foto resminya untuk masa jabatan kedua.
Trump Gugat Penampilan Potret Lama
Trump menolak keras potret sebelumnya yang dilukis oleh Sarah Boardman. Ia menilai lukisan itu tidak mencerminkan dirinya dan bahkan menyebutnya “yang terburuk”. Dia merasa potret tersebut dibuat dengan maksud memperburuk penampilannya.
Dalam pernyataan di media sosial, Trump menyampaikan bahwa ia lebih memilih tidak memiliki potret daripada harus melihat lukisan yang ia anggap mempermalukan. Ia juga membandingkan hasil karya Boardman dengan potret Barack Obama yang ia nilai “terlihat luar biasa”.
Lukisan Baru: Lebih Serius, Lebih Glamor
Trump memesan agar lukisan barunya dicetak dengan bingkai emas yang bisa memantulkan cahaya. Ia ingin potret itu terlihat berkilau di dalam ruangan. Lukisan ini menampilkan ekspresi serius dan jauh dari kesan hangat seperti pada foto resminya yang lama.
Potret tersebut kini menggantikan posisi lukisan resmi mantan Presiden Barack Obama di foyer Gedung Putih, sebagai simbol dominasi visual Trump di ruang-ruang pemerintahan.
Boardman Tetap Membela Karyanya
Sarah Boardman menyatakan bahwa dirinya melukis berdasarkan foto resmi yang sudah melalui persetujuan komite penasihat gedung Capitol. Ia menggambarkan Trump dengan ekspresi netral—tidak marah, tidak tersenyum, tidak menunjukkan sisi personal.
Ia juga menekankan bahwa setiap presiden membutuhkan representasi visual yang bisa bertahan sebagai bagian dari sejarah. Baginya, lukisan tidak perlu menunjukkan emosi, melainkan memberikan penanda waktu dalam perjalanan negara.
Simbol Politik dan Kepentingan Citra
Penggantian potret ini menunjukkan bagaimana citra visual bisa menjadi alat politik. Trump tidak ingin diwakili oleh gambaran yang tidak sesuai dengan pandangannya. Ia menggunakan kekuatannya untuk memastikan bahwa potret dirinya menggambarkan wibawa dan kekuatan, bukan kelemahan.
Partai Demokrat di Colorado sempat menyindir GOP yang terlalu fokus pada urusan lukisan ketimbang hal-hal yang lebih substansial. Namun, para pendukung Trump justru melihat ini sebagai upaya mempertahankan martabat pemimpin mereka.
Penutup
Trump akhirnya berhasil menyingkirkan lukisan yang dianggap menghina dan menggantinya dengan karya yang ia anggap layak. Dengan bingkai emas dan sorotan glamor, potret baru ini menjadi simbol bagaimana visualisasi kepemimpinan bisa dipolitisasi, bahkan dalam bentuk lukisan.
bengkelsastra.com akan terus memantau perkembangan simbolisme politik dalam bentuk karya seni dan bagaimana para tokoh memanfaatkan ruang visual demi menjaga pengaruhnya di ruang publik.
