Bisnis

Kabar Buruk Dari The Fed, Harga Emas Dunia Kembali Melemah

Harga emas dunia pada perdagangan Rabu (19/4/2023) berakhir sedikit terkoreksi 0,58% ke posisi US$ 1.993,91 per troy ons. Mematahkan penguatan sejak perdagangan kemarin. Meski terlempar dari zona US$ 2.000, sang logam mulia terpantau masih begitu bersinar. Pada perdagangan Kamis (20/4/2023) pukul 06:51 WIB, harga emas dunia masih terpantau tak mengalami perubahan signifikan. Hanya naik tipis ke posisi US$ 1.994,31 per troy ons. Padahal, pekan ini ada beberapa sentimen positif yang menyelimuti harganya mulai dari melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) ditambah dengan kabar dari Negeri Tirai Bambu.

Turunnya harga emas dipicu oleh investor yang menjadi lebih skeptis atas potensi penurunan suku bunga AS akhir tahun ini. “Begitu emas menembus angka US$2.000, ada banyak stop loss yang dipicu,” kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago dikutip Bengkelsastra. Di sisi lain, melemahnya dolar AS dipicu oleh ramalan bahwa bank paling powerfull di dunia bakal melunak. Para pelaku pasar memperkirakan bahwa The Fed akan segera menurunkan suku bunganya untuk pertemuan yang akan datang.

Berdasarkan Survei CME FedWatch menunjukkan 86% pelaku pasar bertaruh The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada Mei mendatang. Sebanyak 71% bertaruh The Fed akan mulai menahan suku bunga pada Juni. Meski demikian, perbedaan pendapat tetap ada. Presiden FedSt. Louis James Bullard misalnya yang pada pekan ini juga mengungkapkan bahwa The Fed akan terus menaikkan suku bunga karena inflasi masih tinggi. Sementara itu, Presiden Fed Atlanta justru mengungkapkan hal yang sebaliknya The Fed kemungkinan besar hanya akan menaikkan suku bunga sekali lagi.

“Penjual emas kini lebih perduli pada seberapa cepat dan kapan The Fed akan mulai memangkas suku bunga. Pelaku pasar sudah melakukan priced in jika The Fed akan memangkas suku bunga paling cepat musim panas ini,” tutur Daniel Ghali, analis TD Securities, dikutip dari Reuters. Untuk diketahui, The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 475 bps dalam setahun terakhir menjadi 4,75-5,0%. Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menentukan suku bunga akan digelar pada awal Mei mendatang. Selain itu, harga emas yang kembali menguat ini dipicu oleh kabar baik dari China.

Baca Juga:  Harga Minyak Merana Karena Krisis Perbankan Di AS

Ekonomi Negeri Tirai Bambu mencatatkan angka yang menggembirakan pasca tertekan akibat Covid-19. Ekonomi China melesat 4,5% (year on year/yoy) pada kuartal I-2023, dari 2,9% yoy) pada kuartal IV-2022. Secara kuartal, ekonomi Tiongkok tumbuh 2,2% pada kuartal I-2023 atau jauh lebih tinggi dibandingkan pada kuartal IV-2022 yang tercatat 0,6%. Bukan tanpa alasan emas melesat mendengar kabar baik ini. Negeri Tirai Bambi ini merupakan konsumen emas terbesar di dunia. Dengan ekonomi yang melonjak maka permintaan emas diharapkan naik sehingga harganya juga mengikuti.