PUISI: DI SEBUAH WARUNG


DI SEBUAH WARUNG
Penulis: Rio Tantowi

Ilustrasi: ignant.id

Kau adalah jelmaan tentang apa yang orang pikirkan tentang pesanan mereka yang baru saja datang. Kau semua yang mereka keluhkan ketika makanan mereka terlalu manis. Nama dan matamu ialah kepingan kecil lagu yang sedang diputar oleh pemutar musik di sudut bangku. Kelak kau temui suaramu sendiri di kulkas yang baru saja ditutup. Aku menemukanmu—di antara tempelan-tempelan tembok yang tak mau menyatu—sedang memanggil-manggil nama masa kecilku.

Aku lelah memakai kata kau.

Jejak langkahmu menggema di sebaran lampu-lampu kuning yang menggantung. Mereka sepakat untuk tidak menyentuh bahu sebelah kiriku. Setelah kucermati baik-baik, iktikad mereka lucu juga; mereka tak mau membuatku mengingatmu. Mereka lebih senang hadir dan bertengger di atas kepala orang-orang yang sedang tertawa, entah tentang apa, entah yang palsu yang mana.

Jamuanku untukmu mengendap sela-sela meja dan kursi. Aku beritahu mereka jika kau datang nanti, upayakan tetap tenang. Mereka terlalu sibuk panik dan bergetar tiap kali kutitipkan salam.

-Sudah sampai?

-Kabarmu baik?

Aku buka dunia dan menemukan diriku sendiri di keramaian pekat ini, sepertinya orang kota memang butuh pelarian. Orang kota sukar menemukan keheningan. Mereka lahir dari janji-janji petinggi yang tak tahu sedang apa dan di mana. Tangis mereka adalah lampu-lampu penyebab macet berbelas-belas kilometer. Sedikit menyebalkan namun dibutuhkan.

Omong-omong aku orang kota.

Kota yang mengerti betul bahwasanya sedih adalah kebahagiaan yang terlambat datangnya. Ia suka kesedihan dan menunjukkan perhatiannya dari hujan dan ketidaknyamanan. Ada gelas jatuh dan pecah. Kepecahan merindukanmu, barangkali. Kau masih ingat pelayan yang sempat kuajak bicara waktu itu? Ia makin giat ketika kuberitahu lampu kota suka pelayan ramah.

Kiranya, lebih baik aku membicarakanmu.

Kau menu yang kupesan beberapa saat lalu dan tak jua sampai tujuan. Kau rindu yang kuubah jadi berlembar-lembar kata. Kata memenjara, kata mengeluarkanmu dari celah-celah jendela.

Aku menyimpan segelas cahaya, menjaganya hangat dan dingin dalam waktu bersamaan untuk kita. Kata berita, malam merenggut cahaya dan alam bawah sadar benda-benda. Aku ingin kita tetap ada, merasakan apa yang suka disebut tukang es cendol seberang gedung dengan sebutan: keajaiban yang tak pernah binasa.

Aku merindukanmu, kau tahu.

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar