Lir-Ilir: Potensi Kemunculan Farce dan Wacana Pos-apokaliptik

Bengkelsastra.com- Jika anda membaca artikel ini, anda harus sempatkan melamun. Jika tidak, ya tidak apa-apa. Tetapi saya tetap menganjurkan kalian untuk membaca tulisan ini sambil
melamun. Tulisan ini, saya buat lantaran iseng-iseng saja karena bosan menjalani
tuntutan yang tidak berujung. Bangun siang, pergi makan, kejar target, dapat uang, beli
makan, kerja lagi, dan seterusnya.

Saya mengejar target ke kantor, jadi selama perjalanan menuju kantor, saya menikmati
macet sambil melamun. Di lampu merah, saya membayangkan jika dunia saya
sekarang ini mengalami suatu bencana besar, misalnya, defisit dari salah satu sumber
daya alam yang krusial.

Kemudian, saya teringat beberapa film yang memiliki genre pos-apokaliptik, seperti Maze Runner, Mortal Engines, atau film yang baru-baru saja ini muncul  di layar bioskop, Alita: Battle Angel. Film-film yang menampakkan bentuk utopia atau malah distopia ini berlatar belakang peristiwa katastropik yang kemudian menghasilkan 'adegan' bertahan hidup dari sisa-sisa kehidupan setelah bencana. Sebut saja misalnya kehabisan air, kehabisan uang, makanan, dan sebagainya. Ujung-ujungnya pula kehabisan kemanusiaan.Wacana dunia pos-apokalip ini ternyata menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa UNJ.

Tanggal tujuh Februari lalu, saya datang ke kampus untuk menonton sebuah pertunjukan drama dari Teater Dentang berjudul Lir-Ilir disutradarai oleh Aditya Dwi Prasetya mengangkat naskah karya Warenggasatiyo. Pertunjukan ini merupakan hasil dari mata kuliah apresiasi drama Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2016.


Mereka membuka pertunjukan dengan tarian Srimpi Renggowati. Disebut Renggowati
karena "Tarian ini terdiri dari 5 orang penari perempuan." ujar Adit selaku sutradara. Gerakan yang diperagakan lemah gemulai seperti merpati putih. Namun tarian ini bukan tarian klasik (tradisonal) Serimpi namun tarian kreasi. dengan beberapa modifikasi kostum dan musik pengiring. Kostum yang dikenakan penari sebatas kebaya yang berwarna hitam, jarit motif batik sebagai bawahan, dan kerudung kuning yang diserasikan dengan selendang. Sedangkan musik yang digunakan adalah musik Lir-ilir.



Setelah tarian dan musik pengiring selesai, cahaya pertama yang muncul adalah cahaya bulan purnama di atas panggung. Kemudian disusul dengan cahaya lampu ruang yang menampakkan set panggung yang sederhana. terdiri dari satu batang pohon kering di sudut kanan panggung, kran air di tengah-tengah panggung, dan bangku taman di sudut kiri panggung berlatar backdrop hitam tempat 'bulan dan awan-awan' berada.

Lir-ilir menggambarkan kehidupan manusia yang tengah dilanda krisis air. Namun, di tengah peristiwa kekeringan itu, orang-orang justru mencari air untuk hal hal yang kurang masuk akal, seperti sekedar membasuh tangan, membersihkan kutek, dan malah membilas jari dari tinta pemilu, ketimbang dipakai untuk urusan lain yang lebih masuk akal. Pastilah di atas tanah kekeringan orang akan merasa haus dan lebih memiih mencari air untuk diminum atau mandi atau hal lain yang lebih perlu.


Justru disnilah letak keunikan penampilan Teater Dentang. Atas keberanian mangangkat pementasan dengan jenis pertunjukkan farce. Padahal dalam tataran estetika, farce adalah tingkatan sebuah karya terendah karena cenderung menampilkan cerita yang dangkal dan tidak masuk akal.

Hal ini ditunjukkan oleh karakter-karakter dalam memperlakukan dan merespons situasi dan kondisi di dalam naskah. Plot dan skenario yang dangkal, distopis, dan gamblang justru menjadi pemicu tawa yang terbahak-bahak. Berbeda dengan satir. Tajam, penuh dengan sindiran dan metafora yang dalam sehingga menghasilkan tawa 'bengis' bagi para penikmatnya. Namun, di antara pertunjukan-pertunjukan dengan kritik yang bernada tajam atau satir gelap yang mulai melelahkan, farce bisa menjadi sebuah penyegaran. Kedangkalan dan kegamblangannya, justru akan membuka cakrawala tafsir yang lebih luas terhadap suatu persoalan.

Sayangnya, pementasan ini belum terlalu berhasil dalam mengeksekusi gaya pertunjukan farce. Ada terlalu banyak wacana yang justru membuat pertunjukan ini menjadi berat untuk ditonton dan terkesan tidak berisi. Misalnya, pada adegan kemunculan sekumpulan orang berjubah hitam dengan topeng hitam ala cat woman yang secara tiba-tiba. Lalu mengeluarkan gawai sambil berseru 'Pencuri!' berkali- kali, sambil menyalakan blitz. Adegan semakin membuat saya tertawa ngakak sebelum saya menyadari bahwa orang-orang tersebut adalah penggambaran wacana adanya 'kekuatan netizen'.
Sama halnya seperti kemunculan latar desa dan latar kota di pementasan ini yang belum saya temukan urgensi dibaliknya. Dan beberapa adegan lain yang serupa.

Meskipun demikian, pementasan ini membekaskan tawa dan kesal yang tidak sampai di akal saya malam itu. Absurd sekali. Membuat saya senantiasa mengigatkan diri saya sendiri untuk selalu membaca pergaulan dengan (kaskus) arif dan (dagelan) jujur.

Akhir kata, selamat untuk Lir-ilir dari Teater Dentang!

-Diniwai

Bengkel Sastra

2 komentar:

  1. Ada yang saltik din wkwk. Thx yaa.. kewreenn..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkw iya nih ngeditnya ngelindur... Selamat im.. selamat belajar

      Hapus