Drama Keluarga ‘Hingga Senja??’ dan ‘Ayahku Pulang’



Bengkelsastra.com- Menunggu menjadi tidak terlalu mengkhawatirkan jika diringi kabar yang meyakinkan. Namun seringkali, menunggu menjadi sesuatu pekerjaan yang sangat rumit jika tidak diiringi kesabaran. Hal tersebutlah yang merefleksikan pementasan Teater Dentang dengan Lakon Hingga Senja?? Pada tanggal  8 Februari 2019 di Aula S UNJ.

Konsep realis dengan beberapa metafora yang dipentaskan oleh Teater Dentang cukup berhasil menyampaikan makna ‘menunggu’ dan ‘senja’ kepada penonton. Selain itu, kekuatan drama keluarga dalam pementasan ini pun cukup bisa meroller-coasterkan penonton. Hal tersebut disampaikan dari satu adegan ke adegan lain. Dari satu tokoh ke tokoh lain.

Pementasan dibuka dengan penampilan seorang Ibu dan anak-anaknya yang bercengkrama di belakang rumah. Mereka menatap senja, seolah hal tersebut ialah sebuah ritual untuk menyambut kedatangan seorang Ayah.


Sosok optimistik dalam menunggu direalisasikan oleh tokoh Ibu. Karakter yang lembut dan melankolis tokoh Ibu justru membuat geram anak-anaknya hingga berkata "Ngapain masih nunggu yang tak pasti sih bu?".

Ketika saya memperhatikan lebih dalam tokoh Ibu dalam lakon ini, saya seperti terbawa ke tokoh Ibu dalam lakon Ayahku Pulang karya Usmar Ismail. Perwatakannya seolah hampir dibuat mirip. Begitupun dengan pertentangan-pertentangan antara ibu dan anak; antara Ibu dan Gunarto di Ayahku Pulang dan antara Ibu dan Nara di Hingga Senja??

Kepribadian dalam tokoh Ibu seolah menyimpan memori, insting, dan pengharapan yang berada di luar kesadarannya. Sehingga, hal tersebut mengarah pada perilaku menunggu sosok lelaki yang sangat ia cintai. Tokoh Ibu seolah menanamkan kepercayaan itu kepada anak-anaknya. Namun, anak-anaknya bersikeras menyangkal. Sehingga, yang terjadi ialah pertikaian keluarga.


Nara, si anak sulung menjadi sosok yang sangat membenci ayahnya karena merasa ditinggal oleh Ayah. Yang mau tak mau ia harus menjadi tulang-punggung untuk menghidupi keluarga terutama adik-adiknya. Konflik pertunjukkan kembali hadir. Ketika Nara pulang setelah bekerja di luar kota dengan membawa Rikhas. Rikhas ialah  lelaki yang ingin dijadikannya suami. Nara bermaksud untuk meminta restu kepada Ibu. Hanya saja Sang Ibu bersikeras menyarankan Nara agar menunggu Sang Ayah pulang.

Meskipun terdapat kesamaan di beberapa karakter tokohnya, tentu masih terdapat suatu perbedaan di suatu bagian. Seperti tokoh Ayah dalam Ayahku Pulang , ayah dimunculkan dalam adegan dan berakhir dengan penyesalan. Sementara tokoh Ayah dalam lakon Hingga Senja??  tidak dihadirkan sehingga membentuk suatu ambang cerita yang lebih menggantung. Selain itu, konflik dalam Ayahku Pulang terus menerus dihadirkan, terutama ketika ayah datang kembali ke rumah. Sedangkan di Hingga Senja?? konflik terasa naik turun. Karena dihadirkan tokoh-tokoh yang mengulur adegan konflik: yaitu ketika teman-teman Nara datang ke rumah.

Pada adegan itu, penonton seumpama diistirahkan oleh pertikaian argumen antara Ibu dan Anak-anaknya.

Ali Topan selaku sutradara mampu mengulur adegan dengan para aktornya dan membuat penonton bertanya-tanya, "apakah sosok ayah akan datang pada senja seperti yang dijanjikan?"
Adegan ditutup dengan ketukan pintu dan terdengar suara lelaki, hal tersebut menjadikan pementasan ini memberikan efek penafsiran kepada penonton. Bahwa menunggu tanpa kepastian tidak selalu menyakitkan. 

Selamat untuk Hingga Senja??-nya Teater Dentang!

-Ica

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar