Realisme Artistik dalam Lakon “Lara”

Bengkelsastra.com, Konsep realisme yang disajikan dalam artistik Lakon “Lara” , Jakarta (10/1/2019). Pementasan teater yang bertajuk sosio drama ini memiliki konsep mendetail di atas panggung. Pementasan yang menjadi tugas dari salah satu mata kuliah kelas 3 Pendidikan Bahasa Indonesia UNJ tidak membuatnya menjadi pentas yang biasa saja. Walaupun hanya dipentaskan di Aula S, UNJ , kesiapan dalam segi artistik panggung dapat mencuri perhatian siapa saja yang menontonnya. 

Seniman adalah wadah bagi emosi yang datang dari semua tempat : dari langit, dari bumi, dari secarik kertas, dari bentuk yang lewat, dan dari jaring  laba-laba”. Begitu kata Pabolo Picasso, seorang seniman asal Spanyol. Secara keseluruhan, Scenery atau latar belakang tempat memainkan lakon dapat menggambarkan suasana dalam lakon ini . Konsep auditorium transverse stage yang sangat sederhana dengan meletakkan panggung pementasan dan tempat duduk penonton saling berhadapan membuat penonton seolah-olah masuk ke dalam setiap adegan yang dimainkan. 

Dalam lakon yang disurtradarai oleh Fitriani ini, panggung benar-benar dibuat seolah rumah kontrakan sederhana dengan pembagian ruang tamu, dapur, dan satu kamar. Pemisahan setiap bagian dalam panggung tampak layaknya rumah kontrakan petak sungguhan. Hal-hal mendetail seperti foto keluarga, tumpukan buku di kolong meja , jaket yang digantungkan bersamaan dengan kalender di dinding, dan yang paling detail pada bagian penataan barang di meja dapur serta perlatan memasak yang digantung dengan paku, semuanya nyata dalam pementasan ini. 

Penataan panggung yang pas beserta properti yang digunakan para aktor pun berhasil menjadi kombinasi yang pas untuk ditunjukkan kepada penonton.  Para aktor sudah berhasil mengeksplor panggung dengan sangat apik. Seperti pada gambar-gambar berikut. 



Gaya realisme yang ditampilkan tak jarang membuat penonton ikut hanyut dalam laku cerita sehingga penonton dapat merasakan apa yang terjadi di atas panggung adalah kejadian yang sesungguhnya.

 Fungsi lighting di pementasan ini hanya sebatas menerangi panggung beserta unsur-unsurnya.
Tidak ada penambahan atau pergantian warna pada kejadian-kejadian yang kompleks.  Mungkin, ini juga berkaitan dengan lakon realis yang dipentaskan. Namun yang disayangkan, dalam pencahayaan terkadang proses peredupan lampu terkesan mendadak sehingga sesekali membuat penonton kaget. Dari keseluruhan konsep artistik, sebagai penonton, saya akan beri angka 8 dari 10.



Selamat untuk Lara-nya Teater Dentang! 

-Muna Azzah F


Bengkel Sastra

2 komentar: