Novel Etnografis Menjadi Primadona dalam Sayembara Novel DKJ 2018


Para Pemenang Sayembara Novel DKJ 2018 bersama Para Juri dan Ketua Dewan Kesenian Jakarta.


Bengkelsastra.com, Sastra ialah jalan yang menghubungkan berbagai persefektif menjadi suatu karya yang perlu diapresiasi. Begitupun dengan sebuah sayembara novel yang dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bekerja sama dengan Pemrov DKI Jakarta. 

Ajang yang diadakan dua tahun sekali ini, sudah membuka pendaftaran dari bulan Maret-Juli dan ditutup oleh Yusi Avianto selaku Ketua Komite Sastra DKJ di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (04/11).

Dengan 828 nama yang telah mendaftarkan diri di ajang tersebut, panitia begitu yakin terhadap perkembangan dunia sastra yang semakin pesat. Hanya saja, naskah yang masuk ke panitia hanya 271, terlebih lagi yang memenuhi syarat administrasi hanyalah 245 naskah. Jumlah naskah tersebut ialah menurun dari dua tahun sebelunya yang mencapai 312 naskah. Tetapi, pada tahun ini, kualitas naskah-naskah tersebut patut diacungi jempol. Karena lebih baik dari tahun sebelumnya.

Sebelum memasuki acara inti, penonton disuguhkan dengan penampilan musik oleh Reda Gaudiamo. Ia ialah pemusik dan pecinta sastra yang sering membuat musikalisasi puisi degan akun youtebe Ari Reda. Dengan empat lagu unggulannya, pemusik tersebut membuat para penonton hampir terhanyut dengan nada-nadanya.

Acara dilanjutkan dengan Pertanggungjawaban Juri Sayembara Novel DKJ 2018. Ketiga juri tersebut ialah A.S Laksana, Nukila Amal, dan Martin Suryajaya. Setelah dipersilakan menaiki panggung oleh pewara, ketiga juri tersebut menyampaikan satu persatu laporan pertanggungjawabannya.  

Martin Suryajaya menjabarkan empat keriteria juri dalam memilih pemenang. Yaitu,
Kecakapan Bahasa Indonesia
Novel Indonesia tentu saja bernafas kepada bahasa Indonesia sendiri. Dengan beragam macam kekayaan bahasa Indonesia serta susunan gramatikanya, begitulah para juri mencari penulis terbaik yang mengeksplor lebih dalam terkait bahasa Indonesia

Pengrajinan Sastrawi
Ialah kepiawayan pengarang dengan teknik sastranya. Seperti bagaimana pengarang memainkan alur, tokoh, dan kontras irama dalam naskahnya.

Kebaruan
Ialah bagaimana para juri menilai naskah dengan kebaruan yang diciptakan oleh para pengarang peserta sayembara, baik dalam isi kisah, maupun teknik penulisan. Pasalnya, novelis-novelis Indonesia perlulah mengambil uji coba yang penuh dengan resiko untuk menumbuhkan sesuatu yang lebih segar.

Keselarasan bentuk dan isi
Ialah bagaimana juri menilai para pengaran dengan Pemilihan bentuk pengungkapan yangmesti disesuaikan dengan isi yang mau disampaikan. Sebab, bagaimanapun, bentuk merupakan konsekuensi artistik dari isi.
           
Martin suryajaya pun menyampaikan catatan lebih rinci mengenai 245 naskah yang sampai di tangan juri. Naskah-naskah tersebut memiliki genre yang cukup beragam. Dimulai dari fiksi ilmiah dan fantasi, fiksi sejarah, fiksi religius, juga fiksi ‘hikmah’, memoar dan otobiografi, fiksi etnografis berbagai suku di nusantara, novel gagasan, dan lain-lain. 

Naskah-naskah tersebut memang beragam, hanya saja kepengarangannya masih banyak yang perlu ditingkatkan. Walaupun ada beberapa menarik dan aspek narasi yang asyik. Naskah yang ditulis tanpa kepengrajinan tersebut, juri menjumpai beberapa hal berikut: alur yang mudah ditebak, penokohan yang terkesan monofonik dan generik, novel yang ingin polifonik tapi sebenarnya sama sekali tidak, atau deskripsi narasi yang kurang pas, serta kurang tergelincirnya dialog-dialog dalam narasi tersebut.

Terlebih lagi, juri sangat menyayangkan kepada para pengarang yang kurang memerhatikan naskah. Terlihat jelas juri menemukan naskah-naskah seperti yang tidak disunting. Entah karena terburu-buru ataupun alasan hal lainnya. Itu ialah sikap Anti-kepengrajinan yang seharusnya dimusnahkan oleh para pengarang. 

Laporan pertanggungjawaban dilanjutkan oleh Nukila Anwar. Ia menyebutkan lima naskah yang layak terbit. Berikut ialah daftarnya,

(83) Pemetik Bintang karya Venerbi Handoryo
Gagasan cerita tersebut ialah tentang medrioritas anak mua yang dipoles dengan deskrpisi yang mantap. Akan tetapi, pada penokohannya kurang beragam. Dengan tokoh-tokoh yang tergambarkan pintar semua, hal tersebut membuat pembaca merasa digurui. Novel ini terkesan seperti novel populer Barat.

(214) Tiga dalam Kayu karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie   
Naskah tersebut ditulis dengan struktur yang baru, sehingga lebih cenderung untuk berpuisi. Motivasinya ialah feminis. Hanya saja, sering terganggu dengan gramatika yang kuran pas dalam novel tersebut. Ada beebrapa bagian yang cenderung sureal dan penggambarannya kabur serta tidak masuk akal.

(218) “Nyi Manganti” karya Dadan Sutisna.
Yang menjadi unggulan dalam naskah ini ialah ditopang oleh riset skrip naskah sunda kuno dan juga perubahan zaman. Hanya saja agak terlalu cepat bagian akhir serta elaborasi dalam setiap tokohnya kurang memadai.

 (233) “Babad Kopi Parahyangan” karya Evi Sri Rezeki.
Sama dengan Nyi Maganti, novel ini pun dibangun oleh riset yang sangat mendalam. Bukan hanya masalah kolonialisme , tetapi juga ditambah dengan masalah etnografi dan teknologi pasundan abad 19. Sayangnya, pada bagian akhir penceritaannya terlalu terburu-buru dan terkesan mirip dengan Max Havellar
(241) “Teror Kain Kusut” karya  Irman Hidayat
Kisah dalam novel ini begitu mengalir dan dialognya pun enak dibaca.  Pendek tapi generik. Ingin polifonik tapi nyatanya monofonik.

Setelah penyebutan lima naskah layak terbit, penonton semakin dibuat penasaran siapakah ketiga pemenang dari Sayembara Novel DKJ 2018. A.S Laksana, selaku ketua juri mengumumkan ketiga pemenang tersebut.

Juara pertama (256) Orang-orang Oetimu karya Felix K. Nesi
Felix K. Nesi selaku juara pertama Sayembara Novel DKJ memberikan sepatah dua patah kata.
Novel ini berlokasi di Nusa Tenggara Timur dan mengisahkan tentang suku Jawan. Bukan hanya berlokasi di bagian timur, novel ini pun diimbangi dengan kekayaan pembendaharaan kata, khususnya bahasa Tetun. Pembaca diajak untuk menelusuri bagian pertama sebelum akhirnya novel ditutup dengan kembali ke adegan tersebut. Humornya pun baik dan menitik beratkan ke kritik sosial. Penokohannya digarap secara mendetail dan melebar. Pengarang sangat menceritakan budaya, mitos, suasana, dan karakter orang timur dengan akurat karena didasari oleh riset dan pengalaman yang cukup. Dapat dikatakan, novel ini merupakan novel begenre etnografis yang sangat baik. 

Juara kedua, (164)  Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman karya  Ahmad Mustafa.
Agak berbeda dengan juara pertama, juara kedua sayembara novel ini mengisahkan tentang kaum minioritas: seorang waria, kaum Ahmadiah, dan sebagainya. Pengarang cukup berhasil dengan membawa novel ini sebagai novel yang polifonik. Sangat disayangkan, dalam novel ini penokohannya cenderung hitam putih, suatu gangguan yang membawa risiko tergelincir ke arah melodrama.

Juara Ketiga, (105) Balada Supri oleh Mochamad Nasrullah
Naskah novel ini dituturkan dengan gaya jenaka dan mengisahkan tentang keluarga lintas generasi. Alur ceritanya mengambil peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia. Metafora-metafora dalam naskah ini cukup menggelitik dengan dialog-dialog yang cair, sehingga membuat pembaca terkesan. Hanya saja, naskah ini terkesan atau terasa berkiblat ke One Hundred Years of Solitude.

Berdasarkan empat kriteria juri tersebut, naskah Orang-orang Oetimu memang sangat cocok keluar sebagai pemenang. Bukan hanya kecakapan bahasa Indonesianya saja yang dalam, tapi pengarang berhasil menguak bahasa daerah serta budaya yang berkembang di Timur.

Sayembara Novel DKJ 2018 benar-benar sesuai tujuan tradisionalnya, yang mana memberikan peluang bagi bakat-bakat muda yang geman dengan sastra untuk berkompetisi dan dinilai secara adil, tanpa prasangka tentang pusat-daerah, tanpa bias nama besar, dan tanpa kekhawatiran akan jaringan perkoncoan. Karena semua naskah dinilai tanpa nama penulis.

-Fauziannisa




Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar