Representasi Budaya Z oleh @tonybroer.cuy




Bengkelsastra.com, Pementasan kontemporer tak henti-hentinya merambah di dunia perteateran. Menyuguhkan suatu teknik yang baru dan jauh dari kata biasa. Begitupun dengan Cuy, gimana nolong elu buat pindah dari jaman BB ke jaman Z?

Dengan garapan Yola Yulfianti sebagai Sutradara yang telah bergelut di dunia koreografi, ia memadukan  teater dan tari. Sehingga menjadi sebuah pementasan yang menyeruakkan kegaduhan baru: kocak, kacau, tapi estetis.

Pementasan dalam rangka penutupan Festival Teater Jakarta 2018 ini tampil sukses  di Teater Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2018. Dengan mengangkat tema Gen-Z, rupanya hal tersebut benar-benar digali oleh Sang Sutradara. 

Tubuh adalah Identitas, Masihkah?
Aktor utama dan menjadi sentral dalam pementasan ini ialah Tony Broer. Ia ialah aktor legendaris yang besar pada era dimana tubuh merupakan identitas. Dapat dikatakan bahwa tubuh dipandang menjadi suatu sarana untuk mencengkram realitas yang dilakukan oleh manusia dengan dunia. Tetapi, pandangan Tony Broer, bertentangan dengan pementasan ini. Karena ia berhadapan dengan kenyataan saat ini, bahwa tubuh adalah teknologi.

Pementasan 'Cuy' memang masih mengangkat tubuh sebagai identitas, terbukti bagaimana Si Cuy menjalani 'kedirian'nya selama pementasan berlangsung. Tetapi hal tersebut juga dapat menjadi sebuah kontradiksi. Karena, jika di era sekarang, tubuh dapat saja agak terlupakan dan berganti dengan sebuah teknologi. Dan itu pun ditampilkan dalam pementasan ini.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa tubuh ialah bersifat 'keakuan' seseorang. Dengan adanya tubuh, seseorang dapat merasakan dan mengetahui siapa dirinya dan bagaimana ia bersentuhan dengan dunia.
Tetapi, ketika pada pengertian tubuh adalah identitas, yang mana merupakan suatu bagian dari cara hidup manusia dengan dunia, seharusnya tubuh pun masih dan akan tetap menjadi sentral sebagaimana manusia hidup. Hanya saja pengaruh teknologi membuka sebuah dunia baru: yang mana keberadaan tubuh menjadi dipertanyakan dan raib.

Dengan begitu, ditariklah sebuah pertanyaan besar: bagaimanakah nasib tubuh di era teknologi dan digital sampai ke zaman yang akan datang?

Representasi Budaya Z
Ketika layar diangkat, penonton disuguhkan dengan 7 orang bermain laptop di atas panggung. Diringi dengan suara dari salah satu orang tersebut untuk memanggil Cuy. Suara tersebut ialah Bro, teman digital Cuy. Secara tak sadar, Cuy yang berpenampilan sangat mencolok (berambut  kuning, celana dan kaos ketat pink, serta jaket hijau) ternyata ada di bangku penonton. Ia sedang asik bermain game ketika dipanggil dan tak mempedulikan apapun meskipun penonton sudah menunggu pertunjukan.

Dari adegan sederhana tersebut, dapat diartikan bahwa pada generasi ini, kegemaran akan game di gadget sudah sangat menjamur. Kebiasaan tersebut sudah menjadi racun yang mana dari hari ke hari semakin digemari dan bahkan menjadi teman sejati.

Selanjutnya Cuy naik ke atas panggung dari bawah dan sambil melakukan gerakan-gerakan yoga. Ia bercengkrama dengan salah satu teman gadgetnya. Ocehan-ocehan yang nyeleneh diantara keduanya berhasil membuat gelak tawa penonton. Belum lagi tingkah Cuy yang seolah-olah merepresentasikan pemuda-pemuda polos yang tak buta teknologi tapi selalu dirajam jiwanya dengan teknologi.

Cuy dan teman digitalnya lah yang membuat alur pementasan ini menjadi tambah menarik. Dialog-dialog diantara keduanya yang begitu kekinian, Seperti penggunaan panggilan 'Wa'. Hal tersebut merupakan suatu kebiasaan yang sudah berkembang di masyarakat Jakarta sekitar tahun 2018. Rupanya, Sang Sutradara melihat hal-hal remeh tersebut dan dikolaborasikannya ke dalam pementasan.

Di pementasan ini, dapat dikatakan bahwa Cuy merupakan seorang yang tak bisa terlepas dari teknologi. Itu terbukti dari adegannya yang menginginkan Bro untuk menampilkan video-video kekinian. Seperti video Bohemian Rhapsody, Dian Sastro baca cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, lagu Blackpink, bahkan suara Chelsea Islan yang menyanyikan lagu Happy Birthday.

Hal-hal tersebut sengaja disuguhkan pementasan ini untuk mengatakan bahwa pengaruh kekinian sudah merebak kemana-mana. Terutama pada diri remaja. Hal-hal yang viral menjadi suatu yang perlu dibicarakan agar keeksistensian diri tetap bertahan.
Cuy dengan salah satu teman digitalnya bermain Pump It Up, sebagai suatu hal yang trendy bagi masyarakat kota

Pementasan berlanjut ketika Cuy ingin menampilkan video you tubenya dan foto-fotonya di instagram. Cuy seolah-olah menjadi seseorang yang senang membuat konten. Hal itu menggambarkan budaya masyarakat sekarang yang selalu terlibat dengan konten.

"Viral gapapa, ga viral juga gak apa-apa. Yang penting bikin konten di You tube" Ujar Cuy menanngapi teman digitalnya.

Masyarakat yang selalu mengandalkan google pun digambarkan dengan jelas oleh Cuy. Google merupakan sebuah wadah jawaban terbesar yang hidup di era modern ini, sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan. Bahkan bisa dibilang sejak dalam pikiran.  Cuy pun melakukan segala sesuatunya berdasarkan petunjuk dari google. Apalagi saat dia ingin pergi ke dunia digital tempat teman-teman digitalnya berada dengan menggunakan Google Map.

Kebiasaan masyarakat Z yang jika berpergian mendengarkan lagu pun direprsentasikan di atas panggung. Cuy yang senang mendengarkan lagu pun memilih-milih lagu yang cocok untuk perjelanannya menuju rumah Bro. Hal-hal remeh tersebut bila dibiarkan pun akan menjadi suatu kebudayaan baru.

Hingga akhirnya Cuy pun mengalami krisis identitas. Ia merasa hampa dan tersesat di dunia digital yang makin lama makin membelenggunya. Sedangkan teman digitalnya berkata, bahwa ia akan tetap menemani Cuy  dan sesungguhnya hanya teman digital lah yang menjadi teman sejatinya.


Pementasan Cuy berhasil membuat penonton terhibur sekaligus tersindir. Pementasan yang menjurus pada teori Abrams, yaitu bahwa sastra adalah mimesis, sukses membuat penonton tersentil. Pasalnya, Kelakuan-kelakuan Cuy berada di atas panggung ialah mimesis yang sangat jelas di dunia saat ini. pementasan ini telah berhasil membuat suatu pertanyaan-pertanyaan di benak para penonton: Akan dibawa kemanakah eksistensi tubuh? Akankah tergantikan segala sesuatunya dengan teknologi dan digital? Sejauh mana lagi budaya masyarakat Z akan semakin berkembang?


-Fauziannisa



Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar