Dunia Membingungkan pada Media Sosial dalam Diskusi Gen-Z

A Setyo Wibowo, Agustina Kusuma Dewi, Wawan Ichwannuddin, dan Arkan Tanriwa (dari kiri ke kanan)
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (21/11), Dewan Kesenian Jakarta  mengadakan Diskusi Gen Z pada pukul 16.00 WIB. Acara tersebut masih dalam rangkaian Festival Teater Jakarta yang mengusung tema ' 'Gen-Z'. Tujuan diskusi ini ialah untuk mengupas sejauh mana generasi Z sudah berkecimpung dalam dunia teknologi digital.

Bersama moderator Arkan Tanriwa, diskusi dimulai dengan pembahasan pertama oleh A. Setyo Wibowo. Setyo Wibowo yang senang dalam dunia filsafat, mengatakan dengan lugas bahwa perspektif Gen-Z sudah berada dilingkup media sosial. Segala hal yang dilakukan oleh masyarakat tidak pernah terlepas dari dunia yang membingungkan tersebut.

Dikatakan begitu, karena media sosial dapat diibaratkan seperti sebuah jalan tanpa rambu-rambu yang membingungkan para pengedara. Walaupun membingungkan, tetap saja mau tak mau pengendara harus menggunakan jalan tersebut.

Berbeda dengan Setyo Wibowo yang membicarakan mengenai Sofisme dan Media Sosial, pembicara kedua yaitu Agustina Kusuma Dewi menjabarkan dengan lengkap mengenai Perilaku Warga Digital mengenai Media Sosial.

Berdasarkan pemetaan, Gen-Z adalah masyarakat yang lahir sekitar tahun 1994-2009. Yang mana, dapat dipastikan Gen-Z merupakan generasi yang terbanyak saat ini. Khususnya di Indonesia sendiri.

Dengan banyaknya sumber daya tersebut terdapat suatu ironi. Pasalnya, generasi z ialah generasi yang hampir seluruhnya dilingkup dalam suatu tirani bernama media sosial dan teknologi. Dengan adanya medsos dan teknologi, tentu saja konten pun terlibat. 

“Masyarakat Gen-Z diperkirakan sudah seperti Tuhan. Kita begitu cepat meciptakan konten” ujar Agustin dalam pembahasannya di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki.

Agustin pun menjelaskan, warga digital saat ini, ialah warga yang dibentuk dan membentuk kebudayaan online. Sebagai contoh ialah kreativitas dan akal yang digunakan Gen-Z  hanya sebatas membuat konten di media sosial. Dari mulai vlog dalam akun You Tube maupun aktivitas sehari-hari dalam akun Instagram.  Yang sebenarnya hal tersebut ialah nirmanfaat
            
Hingga saat ini, Indonesia mempunyai pertanyaan besar untuk menyikapi Gen-z dalam bermedia sosial: mengamini dengan gempita segala kemajuan teknologi atau menunggu kesadaran untuk menjadikan media sosial dengan bijaksana.
          
Hampir beririsan dengan masalah itu, Gen-Z sebetulnya memiliki masalah yang lebih besar dibandingkan psikologisnya yang masih tertatih-tatih, yaitu pandangan politik. Dengan materi ketiga dari Wawan Ichwannuddin seorang peneliti dari LIPI, Ia mengambil subtema yaitu Membaca Perilaku Politik Generasi Z Menjelang Pemilu 2019.
            
Pada pemetaan yang dilakukan Afrizal Malna dari berbagai sumber, generasi Z memiliki ciri utama yaitu ketidakpercayaan dalam sistem politik dan bisa menjadi multitaskers. Berdasarkan ciri tersebut, sangat rentan apabila generasi Z menjadi buta perpolitikan. Terutama menjelang Pilpres 2019, mayoritas generasi Z lah yang merupakan pemilih pemula.
           
Terlebih lagi penggunaan media sosial yang dilakukan generasi Z pun mempengaruhi perilaku politik mereka. Berdasarkan penelitian yang dilakukan LIPI, Survei penggunaan internet untuk membaca bacaan politik secara online lebih tinggi dibandingkan menyebarkan kampanye-kampanye politik. Dari data tersebut, minimal generasi Z sudah mau membaca berita terkini dari politik di dalam negeri.
            
Lagi dan lagi, generasi Z selalu berada dalam dunia yang membingungkan. Pada perpolitikan, mereka cenderung berada dalam ambang rasionalitas. Karena terbiasa dengan paparan gadget dalam lingkup maya, rasionalitas pun dipertanyakan. Bahwa, dapatkah generasi Z melihat secara rasional perpolitikan di negeri ini, terlebih dengan berita dalam lingkup maya yang selalu simpang siur (Hoax).
         
Diskusi yang dihadiri oleh para seniman dan akademisi itu pun selesai sekitar pukul 18.00 WIB. Secara keseluruhan, media sosial menjadi objek utama para generasi Z. Walaupun begitu, Yang terpenting dalam dunia yang membingungkan tersebut kita harus menjaga rasionalitas.  Karena sekali sentil saja, rasionalitas pada diri generasi Z dapat berada di ambang yang mengkhawatirkan. 

Fauziannisa.

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar