Dreamgirls: Kembalinya Legenda Musik Amerika di Panggung Teater


“Every man has his own special dream…”
Begitulah salah satu lirik yang dapat membangkitkan gairah para penonton Sabtu, 26 Mei 2018 lalu. Sebuah pementasan musikal ala Broadway yang disuguhkan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki membuat penonton menikmati setiap lirik yang dilantunkan.
Jakarta Performing Arts Community (JPAC) merupakan sebuah kelompok non-profit yang dibentuk pada 2014 yang memfokuskan pada penampilan kesenian anak-anak muda. Pada kesempatan kali ini, JPAC menyuguhkan Dreamgirls sebagai pementasannya di awal tahun.
Dreamgirls. Salah satu drama musikal Amerika yang dipentaskan saat itu, disuguhkan dengan  pementasan Broadway yang apik dan kental walaupun seluruh aktornya merupakan remaja-remaja Tanah Air.
Dreamgirls menceritakan tentang legenda musik kulit hitam di Amerika. Deena, Effie, dan Lorell merupakan perempuan-perempuan muda bertalenta yang bersatu dalam vokal grup Dreamettes dengan C.C sebagai orang dibelakang mereka (composer, koreografer, dan orang yang mengatur jadwal tampil). Mula-mula, Dreamettes hendak mengikuti sebuah kompetisi musik  di Detroit untuk menjadi pemenang dan mengisi sebuah penampilan untuk penyanyi legendaries saat itu. Namun, melihat talenta mereka, Curtis Taylor Jr. malah membuat setting agar Dreamettes kalah dan mau bergabung bersama manajemennya dengan menjadi backing vocal untuk James Thunder Early—penyanyi kulit hitam asal Detroit.


Sempat menolak ajakan Curtis, Dreamettes akhirnya memilih untuk menurutinya dan siapa sangka Early malah jatuh cinta juga dengan penampilan mereka. Beberapa lagu telah mereka nyanyikan bersama hingga akhirnya mereka terkenal. Sampai pada suatu hari, Curtis memutuskan untuk memisahkan Dreamettes dari Early dengan menjadi grup vokal tunggal dan mengubah namanya menjadi The Dreams. 

Namun, masalah kembali muncul akibat keputusan Curtis yang menjadikan Deena sebagai vocal utama yang sebelumnya diisi oleh Effie—kekasihnya sendiri. Kecemburuan yang dirasakan Effie karena ia berpikir bahwa Curtis memilih Deena karena fisiknya yang lebih cantik. Akhirnya Effie meninggalkan The Dreams untuk sementara waktu hingga akhirnya ia mengetahui bahwa The Dreams telah mendapatkan personil penggantinya tanpa sepengetahuan Effie.
The Dreams semakin terkenal dan mulai menjadi bintang besar di Amerika. Namun Effie semakin terpuruk dan menjadi salah satu warga biasa di Detroit. Kesuksesan ini kemudian tidak bertahan lama hingga akhirnya C.C sebagai orang yang mengurus semua music The Dreams merasa bahwa Curtis sebagai manajer sangat rakus. Ia menilai bahwa Curtis mampu melakukan apapun demi semua keinginannya bahkan mengubah aransemen music C.C demi mangsa pasar. Hal ini yang membuat C.C geram hingga akhirnya ia mengetahui bahwa lagu yang ia ciptakan khusus untuk Effie malah diaransemen ulang untuk dinyanyikan The Dreams.



Kabar ini membuat pihak Effie dan C.C geram hingga akhirnya mereka menuntut Curtis dengan jalan hukum. Semua kebusukan Curtis akhirnya diketahui oleh Deena—kekasih barunya setelah Effie. Deena merasa bahwa kesuksesannya bersama The Dreams malah memakan banyak korban akibat ulah Curtis.
Akhir cerita, The Dreams memutuskan kontrak bersama Curtis dengan  menggelar sebuah konser perpisahan yang dihadiri oleh Effie sebagai bintang tamunya dan memperkenalkannya kepada seluruh penggemar The Dreams bahwa Effie juga merupakan salah satu personilnya.
Kerja bagus untuk JPAC yang mampu membawa para penonton kembali ke masa dimana musik Blues berjaya. Dreamgirls yang merupakan alihwahana dari film dengan judul yang sama ini berusaha sekuat mungkin agar terlihat persis sama. Walau sutradara, Hans De Waal mengubah beberapa sudut pandang cerita, namun Dreamgirls sukses membawa aura Beyonce, Jenniffer Hudson, dan Annika Noni Rose ke atas panggung Graha Bhakti Budaya.

Tidak ingin mengecewakan penonton dan penikmat soundtrack Dreamgirls, pementasan ini juga mempertahankan lagu-lagu yang berasal dari film ke atas panggung sehingga para penikmat lagunya masih bisa menyaksikan bagaimana soundtrack itu dinyanyikan langsung oleh para aktor.

Bukan JPAC namanya jika pementasan tanpa koreografi. Kelincahan para aktor yang masih muda dengan menari-nari riang di atas panggung juga menjadi konsumsi penonton. Arahan dari koreografer Elhaq Latief yang tidak menghilangkan konsep gerak dari film Dreamgirls semakin membuat suasana musik pada zaman itu hidup kembali.

Kerja bagus bagi JPAC. Terima kasih atas penampilan yang hebat.

“All you got to do is DREAM.”
Bengkel Sastra



Bima Dewanto

Part of everything

Tidak ada komentar:

Posting Komentar