Tayangan Overpopulasi Dua Cerpen Vonnegut



Judul               : Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana
Penulis                : Kurt Vonnegut, Jr.
Penerjemah         : Widya Mahardika Putra
Penerbit              : OAK, Yogyakarta
Cetakan              : pertama, September 2017
Tebal               : x + 28 hlm
ISBN               : 978-602-60924-5-8
Beberapa pekan yang lalu, gawai saya penuh dengan notifikasi pesan yang masuk dari beberapa grup di Whatsapp. Grup dengan notifikasi terbanyak menarik perhatian saya. Dimulai dengan sebaran poster pementasan drama, ucapan selamat ulang tahun salah satu anggota grup, guyonan Dewa Horus dengan Dewa Seth sebagai penyebab angin kencang, sebaran modus penipuan ojek daringsharing jurnal ilmiah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Perdebatan rilisnya sebuah klaim kelahiran angkatan puisi baru merupakan chat grup terpanjang yang saya simak selagi itu.
Setelah berpanjang-panjang dengan wacana angkatan puisi ituseseorang di grup mengirim sebuah gambar –tepatnya sebuah foto sampul buku- lengkap dengan kepsyen setengah opininya. “Buku ini bagus betul, walau cuma berisi dua cerita pendek saja, tapi ini betulan gokil.... Melihat gambarnya saya cukup tertarik, desain sampul yang unik persis seperti desain poster sebuah pidato kebudayaan yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki tempo lalu.  Saya, sebagai anggota pasif grup ini, memberanikan muncul untuk menanyakan buku tersebut hingga akhirnya ‘nitip dibawakan satu’ saat diskusi di kedai kopi dekat kampus keesokan harinya.
Saya terlambat datang, buku ini tadinya sudah dibeli dan nyaris dibawa orang. Beruntung, dengan bantuan seseorang dan muka memelas, buku ini sampai ke tangan saya. Entah apa yang membuat buku ini menjadi begitu diperjuangkan. Antara kata-kata teman anggota grup yang saya percaya melebihi seorang sales itu, desain sampulnya, nama asing yang tertera di sampul buku itu, atau memang karena harganya yang di bawah tiga puluh ribuan.
Seperti yang teman saya katakan, buku ini terdiri dari dua cerpen, sehingga buku ini tipis dan kecil, hanya sekitar 12 x 18 cm. Pada jilid buku ini terdapat lisensi Penerbit OAK, hak cipta terjemahan dilindungi undang-undang, dan tiga judul yang tertera dalam daftar isi. Judul pertama adalah yang juga menjadi judul buku ini, “Kurt Vonnegut-Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana” (terjemahan dari Big Trip Up Yonder)Yang kedua berjudul “2BR02B”. Yang ketiga berjudul “Mengapa Vonnegut?”.
Tanpa membaca judul yang ketiga sebagai ‘petunjuk’, saya tidak dapat membayangkan berapa kali saya harus membaca ulang setiap detil buku ini untuk mengerti. Terlebih karena saya sendiri jarang membaca buku terjemahan, apalagi yang bergenre science-fiction.
Vonnegut banyak menggambarkan cerminan kehidupan Eropa. Nama-nama orang khas Eropa, seperti Emerald, Lou, Hitz, dan Wehling juga digunakan sebagai nama tokoh dalam ceritanya. Penggambaran desain bangunan dan tata dialog juga tidak kalah asingnya. Ditambah pengangkatan latar di abad ke-22, membuat cerita di dalamnya terasa semakin jauh dan berbeda dengan lingkungan dan penerapan budaya orang Indonesia seperti saya. Anti-gerasone yang sering disebut dalam buku ini membuat pembaca seolah sedang menonton film Hollywood bergenre science-fiction. Inilah alasan saya memilih judul ‘Tayangan Overpopulasi’ untuk tulisan saya kali ini.
Rasa keterasingan saya terbayar dengan lelucon sarkasme atas overpopulasi yang diangkatnya menjadi tema besar. Sepemahaman saya, overpopulasi ialah keadaan lepas kendali atas membludaknya jumlah populasi manusia. Angka kelahiran meningkat tajam dan jauh dari angka kematian. Di dalam buku ini, seperti yang tertera pada ‘petunjuk’ di judul ketiga, Vonnegut menggambarkan masalah overpopulasi dan solusinya secara duniawi. Sehingga menghadirkan beragam cara pandang yang sawang-sinawang.
Membaca cerita pertama (Perjalan Nun Jauh ke Atas Sana), saya  mengalami auto-connect dengan keadaan negara tercinta Indonesia, mengingat Indonesia juga merupakan negara dengan populasi yang besar. Tidak jarang kita menemukan, terutama di daerah-daerah, beberapa kepala keluarga yang tinggal bersama di bawah satu atapHal ini tercermin dari penggambaran letak duduk Lou (tokoh dalam cerita pertama),
“...di baris paling belakang, di belakang ayah dan ibunya, kakak dan adik iparnya, cucu dan cicitnya, keponakannya, cucu dan cicit keponakannya…” (hlm.2).
Penggambaran overpopulasi pada cerita pertama lebih mengarah pada pandangan bahwa  keabadian, yang banyak diharapkan manusia, ternyata menimbulkan berbagai masalah. Vonnegut mencitrakan keabadian dengan usia, seluruh tokohnya rerata berusia di atas seratus tahun. Sehingga seluruh keturunan melahirkan keturunannya lagi, dan semuanya berada dalam satu tempat tinggal.
Hal tersebut mengakibatkan terjadinya perebutan hak waris: tempat tinggal dengan privasi dan kenyamanan menjadi dambaan bagi setiap orang di dalam  keluarga besar itu. Lou sebagai cucu Kakek harus berkelakuan baik, tidak boleh melakukan satu kesalahan pun bila ingin tetap memiliki tempat tinggal.
“Hari ini, untuk kesebelas kalinya Lou telah kehilangan jatah warisannya, dan mungkin ia harus berkelakuan baik tanpa cela selama enam bulan untuk kembali mendapatkan jatah warisan…” (hlm. 5).
Pada bagian akhir cerita pertama, Vonnegut mengubah sikap taat dan tunduk itu menjadi  sebuah tindakan yang sia-sia.
Semuanya ada. Wastafel, kasur, lampu, lengkap pokoknya. Aku jadi heran, mengapa kita mau capek-capek berebut kamar kakek.” (hlm.19).
Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana merupakan cerita yang berasal dari angan-angan kakek untuk dapat hidup dengan damai sejak puluhan tahun yang lalu. Overpopulasi di dalam apartemennya menjadi sebuah “gangguan” yang harus segera disingkirkan. Angan-angannya itu baru terwujud ketika seluruh keturunan yang ada di apartemennya masuk penjara. Seketika itu kakek berkata, “Schen-ec-ta-dy, Akhirnya selesai juga!” (hlm.21).
Cerita kedua di buku ini berjudul 2BR02B”, menceritakan tentang bagaimana mengatasi overpopulasi, namun dalam skala yang lebih besar. Awalnya, pembaca diantarkan ke keadaan dunia yang menjadi dambaan setiap umat manusia setelah keabadian.
“Tak ada penjara, tak ada kampung kumuh, tak ada rumah sakit jiwa, tak ada orang cacat, tak ada kemiskinan, tak ada perang… seluruh penyakit sudah ditaklukkan. Begitu pula usia.” (hlm. 23-24).
Dunia digambarkan menjadi sebuah tempat yang sangat sehat dan ideal. Tetapi, semua keadaan indah dan manis dalam cerita ini harus dibayar mahal, yaitu dengan adanya kontrol populasi.  
“Saya hanya perlu memilih salah satu dari anak saya untuk tetap hidup, kemudian mengantar kakek saya dari pihak ibu ke Pengalengan, dan kembali ke sini membawa tanda terima.” (hlm.34).
Di dalam cerita ini, Vonnegut menulis dengan sangat nyata bahwa keadaan dunia yang baik dapat terwujud dengan cara mencegah overpopulasi. Bahwa penekanan angka penduduk adalah sebuah jalan praktis menuju dunia yang aman dan nyaman. Penjagalan terhadap salah satu anggota keluarga adalah harga yang pantas untuk dibayarkan. “2BR02B dalam cerita ini adalah sebuah nomor telepon dari sebuah institusi yang memiliki julukan “Otomat”, “Negeri Burung”, “Pengalengan”, “Jangan-Menangis-Lagi”, “Buat Apa Susah?”, dan masih banyak lagi, yang tak lain adalah tempat untuk mengeksekusi orang-orang yang ‘ingin’ mati. Dalam catatan kakinya, “2BR02B” dibaca “To be or not to be”, yang diambil dari soliloquy tokoh Hamlet dalam drama tragedi Hamlet karya William Shakespeare.
Buku ini, sebagaimana yang tertulis di dalamnya, “..cukup untuk memperkenalkan sepenuhnya karakter Vonnegut kepada publik pembaca Indonesia..” (hlm.46) sebagai karya bergenre science-fiction yang layak baca.

-Khurin Nurlaili Imandini-

Bima Dewanto

Part of everything

Tidak ada komentar:

Posting Komentar