Puisi: Dialog Dini Hari


Sepenggal malam, terbentuk dari penggalan-penggalan malam yang lain merubah butiran-butiran embun jadi yang lain, jadi pagi.

Di kanan-kiri banyak kopi, tapi tak kulihat wajah yang berlekuk pahit, itu benar mereka atau hanya pura-pura?

Sehitung mataku, ada 60 senti jarak antara ketikan tanganmu di papan penjarian dan sedotan—yang menyeruput kekosongan di gelas—di bawah jemariku

Aku sempat lupa, apa nama hari ini? Ada pemisah antara kemarin dan esok, ini masih seperempat menuju hari baru, tapi hari apa ini? Masih kemarin? Masih yang lalu? Esok? Diriku melamun

Perpindahan adalah perpindahan, transisi, bergerak, melamban, terhenti

Aku masih melamunkan hari, dan kau melamunkan seorang laki-laki. Tepat sekali. Ceritamu belum usai, masih paragraf pembuka, aku belum sempat berkenalan dengan lelaki itu

Oh jadi begitu?

Ini apalagi? Mengapa lantas aku yang bersedih? Sontak aku protes

Ini hari burukmu, mengapa aku?

Cuih, kau hanya bernyanyi dan air mataku menari

Lantunan laju bus yang susah tidur dengan susah payah mengantar kita kembali bercerita

Seingatku tadi kau yang tumpah, ayo tumpahkan lagi

Sepi. Tak nampak keinginannya melihatku

Aku dapat sesuatu, pikiranmu mestinya menjelma bus itu, lalu-lalang, bosan, dingin, rawan, apapun yang dihadapi bus itu ialah gambaran isi otakmu

Semoga ia tak menyentuh alam bawah sadarmu, doaku


Ini jam tiga pagi, dan seseorang bermimpi di atas bahuku


Oleh: Rio Tantowi
Ilustrasi: Milah Nuraini

Bima Dewanto

Part of everything

Tidak ada komentar:

Posting Komentar