Catatan Keaktoran: Mentang-mentang Abis Ngaktor


Menyuguhkan suatu pementasan yang luar biasa merupakan tugas yang tak mudah, namun melewati proses pementasan yang tak mudah merupakan suatu keharusan dan tantangan yang luar biasa. Pengalaman dan suasana baru tentu kami rasakan setelah melewati keseruan sebelumnya,terlebih untuk anggota baru Bengkel Sastra yang mengisi atmosfer baru keluarga ini dan mengawali pementasan pertama mereka.
            Pembacaan naskah dimulai ketika salah satu kegiatan Bengsas yaitu latihan alam terlaksana. Banyak naskah yang telah dibaca dan kami pahami, dari naskah yang memainkan 5 Aktor hingga 12 Aktor. Pada akhirnya, sutradara memutuskan untuk memilih naskah “Mentang-mentang dari New York” oleh Marcelino Agana JR yang diterjemahkan oleh Tjetje Yusuf. Naskah ini dibawakan dengan gaya realis dan menggunakan bahasa Betawi dalam berdialog. Tantangan besar bagi kami untuk membawakan naskah ini karena banyak sekali pergantian emosi yang terbilang cepat dan juga guyonan-guyonan dalambahasa Betawi.
           Untuk menyesuaikan pembawaan serta jumlah aktor, dilakukanlah proses casting dalam waktu 2 hari untuk memilih aktor yang akan berperan dalam pementasan ini. Hasil dari casting, terpilihlah 5 aktor yaitu Siti Jamilatulfadhylah(Ikah), Indra Komara (Anen), Ning Idja Jasman (Fatimah), M. Aldiansyah (Otong), dan Dara Adinda Agrin (Bi Atang).
         Beradaptasi dengan bahasa Betawi adalah salah satu hal yang terbilang sulit, bahkan hingga hari terakhir blocking, kami masih sering salah mengucapkan dialek Betawi “ya iye gimane kaga susah, kite orang beragam bangat dah ini, apalagi ono Bi Atang, pemeran aslinye dari Mamuju, gimane kaga pening ubun-ubun”.
            Selama 2  bulan kami berlatih, banyak sekali evaluasi dan motivasi untuk para aktor juga tim produksi. Evaluasi ini memberi ide bagi sutradara yaitu Rio Tantowi untuk menambah beberapa aktor sebagai pemeran pendukung sehingga memberikan warna baru dan sentuhan yang lebih menarik karena keberadaan mereka. Aktor-aktor itu adalah Muna Azzah ( Mbak Ayune) dan Sheldy Ardya Pramanda (Cang Mamat).
           

   Latihan kami selama 2 bulan dapat dikatakan sebagai latihan yang tidak selalu berjalanmulus. Kadang aktornya lengkap, kadang ada yang berhalangan hadir karena alasan tertentu,  Begitu juga dengan tim produksi, dari artistik yang anggotanya jarang hadir, musik pendukung yang masih belum sesuai, pencahayaan yang belum terkonsep, kostum yang tidak sepadan dengan aktor, dan masih banyak kendala lainnya. Hal tersebut terkadang memengaruhi semangat kami dalam berlatih. Saya sebagai salah satu aktor pun terkadang merasa tidak semangat dan selalu merasa ada yang kurang. Apalagi selama 1 bulan, latihan kami tidak terbilang kondusif karena masih ada tanggung jawab menyelesaikan UAS dan kesibukan lainnya sehingga kami jarang berlatih dan menyemangati satu sama lain. Itulah dukanya. Namun duka tersebut kalah dengan banyaknya keseruan tiada banding, banyak sekali tantangan baru dalam bermain peran apalagi pendekatan para aktor seperti Otong dengan Anen, Anen dengan Ikah, Fatimah dengan Anen, Otong dengan Fatimah, Bi Atang dengan Ikah, dan seluruh keluarga Kampung Jelambar. Pergantian emosi yang berlalu (berganti) cepat menjadi tantangan yang diselimuti keseruan dari kami para aktor. Guyonan dan permainan selalu menjadi selingan bagi kami sebelum melakukan blocking atau ketika blocking berlangsung, “iyee, becanda aja bagus”.
       7 hari sebelum pementasan pun masih jauh dari kata sempurna. Gaya bahasa, artikulasi, perubahan emosi, dan dialek Betawi masih terus dievaluasi berulang kali dan sulit untuk ditingkatkan. Berusaha dan menyemangati satu sama lain mungkin adalah tulisan yang melekat pada benak kami, karena sampai gladi bersih pun kami masih harus membenahi kekurangan kami yang tidak sedikit itu.
            Banyaknya penonton pada hari itu membuat kami yang berada di wing dan backstage menjadi lebih berdebar-debar, bahkan ada yang gemetar saking tidak ingin membuat penonton kecewa. Tangan dingin dan tidak bisa diam adalah hal yang kami alami. Bagaimana tidak, ini adalah panggung pertama kami setelah latihan alam berlangsung, apalagi bagi mahasiswa baru, benar-benar membuat saya merinding (berhubung saya adalah salah satu mahasiswa baru). The Miracle of H-day, saya memetik kata dari salah satu senior Bengsas. Ternyata memang benar nyata, muncul keajaiban, lebih santai, timbul keluwesan, dan munculceletokan-celetokan yang justru menambah daya tarik pementasan kami. Banyak kejadian yang tak disangka-sangka muncul, entah bagaimana hal itu menyembur dengan sendirinya, kami merasa ingin memberikan seluruh kemampuan terbaik yang dimiliki, tidak peduli apakah benar atau salah, kami sungguh menikmati suasana di atas panggung, rasa gugup dan gemetar hilang dalam sekejap, mencari sorotan cahaya lalu berdialog merupakan tanda bahwa kami harus membawakan peran dengan sepenuh hati bahkan melupakan siapa diri kami sebenarnya. Haru dan lega ketika mendengar tepuk tangan dari para penonton, senang ketika dapat menghibur dan mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaga kami.
            Kami tidak kapok dan selalu ingin belajar, tidak ada yang lebih indah dari kebersamaan, nilai positif pementasan ada karena kerjasama yang baik dan kebersamaan dalam keluarga Bengkel Sastra, kehangatan serta saran yang selalu diberikan adalah salah satu hal besar yang berpengaruh pada tiap kegiatan khususnya pada pementasan kali ini. Kami tidak pernah lupa. Tidak pernah lupa pada hari itu, 25 Januari 2018.

-         

- -Ning Idja Jasman -

Bima Dewanto

Part of everything

Tidak ada komentar:

Posting Komentar