PEMENTASAN TEATER “NYAI ONTOSOROH : PERJUANGAN HIDUP PEREMPUAN LEGENDA”

PEMENTASAN TEATER “NYAI ONTOSOROH : PERJUANGAN HIDUP PEREMPUAN LEGENDA”
OLEH TEATER PARADA UNIVERSITAS IBNU CHALDUN JAKARTA




Menyambut datangnya Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April, dan juga menjadi penutup dalam rangkaian acara “Communication Day” Fikom UIC, Teater Parada Universitas Ibnu Chaldun Jakarta menyelenggarakan pementasan teater dengan lakon “Nyai Ontosoroh” pada hari Sabtu, 22 April 2017. Lakon ini adalah adaptasi dari novel legendaris “Bumi Manusia” Karya Pramoedya Ananta Toer. Disutradarai oleh Dian Pertiwi,  pementasan ini menjadi produksi kedua teater yang belum genap berusia setahun itu. Bertempat di aula Bachder Johan Universitas Ibnu Chaldun, pertunjukkan berlangsung dalam tata panggung yang sangat sederhana dalam merepresentasikan latar. Di kesempatan kali ini Bengkel Sastra diundang untuk menonton pertunjukkan tersebut.

“Kita telah melawan Nak Nyo, sebaik-baiknya. sehormat-hormatnya” begitulah dialog terakhir yang diucapkan oleh Nyai Ontosoroh (Febri Ayu Rianti) di ujung pementasan. Menjadi lambang perjuangan emansipasi seorang wanita di abad ke-19, Nyai Ontosoroh (Febri Ayu Rianti) menceritakan tentang perjuangan hidup seorang wanita jawa yang dipaksakan oleh orang tuanya untuk menjadi gundik dari seorang belanda bernama Herman Mellema (Tri Ferianto). Di awal hidupnya, Nyai Ontosoroh bernama Sanikem.  Di usia belia, ia menjalani masa yang sulit karena dirinya dijual oleh Sastromo (Yezi Pratama) yang merupakan ayahnya demi jabatan baru yang diinginkannya.


Dalam alur cerita yang cepat diperlihatkan bahwa Nyai Ontosoroh telah menjadi gundik yang terhormat bagi penduduk sekitar. Lalu ketika kedua orang tuanya hendak bertemu dengannya segera ia tolak keinginan tersebut karena merasa sudah tak punya orang tua lagi. Kini ia telah memiliki dua orang anak, salah satunya Annelies (Alin Tiani Putri). Annelies sendiri telah memiliki kekasih, Minke (Luis Andika) yang rajin mengunjungi rumahnya untuk bertemu.


Ujian hidup sesungguhnya dari Nyai Ontosoroh dimulai saat Ir. Maurits Mellema (Janwaria) datang ke rumah dan menuntut ayah yang telah meninggalkan ibunya dalam status yang tidak jelas. Ya, ayah Mauritz adalah Herman Mellema. Suasana di dalam rumah memanas kala kejadian tersebut. Perang mulut terjadi ketika Nyai Ontosoroh mendengar Mauritz Mellema yang sedang berbicara dengan Herman Mellema, menghina keluarganya. Dari dalam kamar Nyai langsung keluar dan mengusir Mauritz. Semenjak kejadian tersebut Herman Mellema bukan lagi Herman Mellema yang dulu. Ia lebih murung, lebih banyak diam dan lebih sering tidak di rumah.


Kedatangan Maurits ke rumahnya menjadi faktor utama berubahnya sikap dari Herman Mellema saat itu, di tengah kekalutan pikirannya, ia lalu mengunjungi rumah pelacuran milik Cici Ah Tjong (Desnie Kurniawaty) untuk melepas beban pikirannya, namun siapa sangka kunjungannya kala itu menjadi akhir dari rangkaian kehidupannya. Matanya tertutup untuk selamanya.


Setelah kematian Herman Mellema, pengadilan memberikan tindak diskriminatif terhadap apapun yang dilakukan Nyai dan Minke. mulai dari memojokkan kasus kematian Herman Mellema ke diri Nyai Ontosoroh hingga keputusan yang menyatakan bahwa Minke dan Annelies telah menjalani pernikahan yang tidak sah. Pribumi tidak memiliki kuasa atas kehormatan dan hak mereka di pengadilan. Tindak diskriminatif orang kulit putih menyebabkan mereka tak berdaya atas apa-apa. Annelies dipulangkan ke negeri asalnya : Belanda. Minke yang mengagung-agungkan eropa lemas saat semua yang diagungkannya merenggut istrinya. Namun Nyai Ontosoroh tetap tegar dan berkata “Kita telah melawan Nak Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.



Selepas pertunjukkan malam itu pihak Teater Parada sengaja melakukan sesi evaluasi bersama yang mengajak seluruh penonton untuk menyampaikan opininya demi perkembangan teater tersebut ke depannya. Banyak komunitas teater di Jakarta yang turut menonton pementasan dan memberikan opini-opini membangun untuk Teater Parada. Meskipun segalanya bernuansa sederhana, pertunjukkan yang telah dilakukan Teater Parada adalah bukti bahwa semangat berteater tak bisa dihalangi oleh apapun. Tetap semangat dan jangan berhenti berkarya Teater Parada!

Rio Tantowi

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar