Dengar Kata Katapel

Dengar Kata Katapel




Ruang adalah dimensi di mana objek, peristiwa, dan waktu saling mengisi. Terjadi berbagai aktivitas yang beriringan dengan bentuk dan fungsi ruang, atau tak jarang bertentangan dengan bentuk dan fungsi ruang itu sendiri yang membuat ruang menjadi relatif untuk dieksplorasi.
Perubahan bentuk dan fungsi ruang dalam konteks sastra merupakan salah satu objek yang menarik untuk ditelusuri dan dieksplorasi secara liar oleh para pekerja seni pertunjukan.
Selama tujuh tahun Katapel berkelana dalam dunia seni pertunjukan, khususnya dalam dunia musik. Kali ini, Katapel mencoba memasuki ruang puisi lebih dalam dan mencari jalan untuk membuka selebar-lebarnya ruang puisi menjadi sebuah ruang yang lebih menarik untuk dinikmati.

Tiga paragraf di atas merupakan sinopsis konser musikalisasi puisi bertajuk Metaspasial yang diadakan oleh Katapel. Berasal dari sebuah perguruan tinggi di Bogor, Katapel berdiri pada tanggal 27 Januari 2013 dan mengkhususkan diri untuk bergerak dalam dunia musik serta puisi. Sebelumnya, nama kelompok remaja ini adalah Diksatrasia, namun seiring berjalannya waktu namanya berganti menjadi Katapel.

Kelompok ini memiliki tujuh orang personel inti yaitu, Ichbal Majoraharmony (Vokal & Gitar), Doni Dartafian (Biola, Sape, Terumpet), Irvan Agustin (Perkusi), Hakim Salman (Flute, Saron, Tehyan), Chairil Anwar (Perkusi), Ryza Satriana (Gitar), dan Ristyo Pahlawan (Bass).

Diselenggarakan di Gedung Kesenian Kemuning Gading, Bogor, Konser Metaspasial ini berlangsung selama dua hari—Sabtu, 22 April dan Minggu, 23 April 2017—dengan dua kali penampilan di masing-masing hari, pukul 13.30 dan 19.30 WIB di hari Sabtu serta pukul 10.00 dan 15.00 WIB di hari Minggu. Bengkel Sastra memilih untuk menonton penampilan Katapel ini pada Minggu pagi.


Ichbal dan kawan-kawan membawakan lima belas puisi yang telah dimusikalisasi dengan sangat apik. Dibuka dengan puisi Rendra, Gumamku, Ya Allah dan ditutup dengan puisi Mohon Pohon karya sang violinist, Doni Dartafian. Tiga belas musikalisasi puisi yang lain di antaranya adalah puisi-puisi karya sastrawan besar Indonesia seperti Sajak Doa (Sutardji Calzoum Bachri), Derai-Derai Cemara (Chairil Anwar), Sajak Rajawali (WS Rendra), Dengan Sepenuh Cinta (AGS Arya Dipayana), dan Al-Hadid (Fatin Hamamah), selain itu mereka juga menyanyikan puisi karya Yeni Fatmawati, Krisna Pabichara, Lies Wijayanti, Gemi Mohawk, pun puisi-puisi karya Katapel sendiri.

Menariknya, puisi-puisi tersebut dibawakan berurutan sesuai konteks yang mereka bedakan menjadi empat ruang; ruang vertikal, ruang sentimental, ruang kontemplatif, dan ruang rimba. Bukan hanya dari segi konteks, empat ruang tersebut juga mereka bedakan dari segi konsep penampilan untuk menyadarkan para penonton akan adanya perbedaan itu. Akan tetapi, dapat dengan mudah ditarik kesimpulan kalau Katapel tentu mengusung genre musik tertentu untuk musikalisasi puisinya, hal ini dapat dilihat dari setiap musikalisasi puisi yang terdengar “setipe” sehingga satu jam lebih penampilan mereka terkesan konsisten dan menjaga emosi pendengar sehingga tidak harus tiba-tiba meledak-ledak atau mendayu-dayu di tengah-tengah konser.

Hal lain yang membuat Katapel menarik sekaligus berbeda adalah mereka menggabungkan alunan Sunda dari alat musik khas Sunda pula, dengan alunan sekelompok pemain biola yang anehnya terdengar begitu harmonis.


Dilihat dari pilihan puisi yang dibawakan Katapel serta puisi-puisi ciptaan mereka, Katapel tentu ingin menyampaikan sesuatu kepada para penonton. Mereka tentunya ingin menyampaikan pesan-pesan yang seharusnya bisa membuat kita menjadi lebih baik, bukan hanya sekedar datang, duduk, dan bertepuk tangan.

Karena itu, semoga Katapel bisa sampai pada tujuannya dalam setiap konser yang mereka gelar.


Terima kasih atas musiknya, Katapel. Bengkel Sastra menikmati dengan baik.


Tiyas Puspita Sari


Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar