Bukan Sekadar Pertunjukan “Napak Tilas Sri Panggung Miss Tjitjih”

Oleh: Andriani

Rabu, 26 April 2017 Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjttjih mempersembahkan sebuah pertunjukan sandiwara dengan judul “Napak Tilas Sri Panggung Miss Tjitjih”. Pertunjukan ini merupakan salah satu dari rangkaian acara memperingati 89 tahun Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih. Acara yang diselenggarakan  di  Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki ini berlangsung dari pukul 19.30 sampai dengan selesai.


Pertunjukan yang berlangsung hampir dua jam ini mengisahkan perjalanan Miss Tjitjih (Irma Nurani) dengan kelompok sandiwaranya semenjak Miss Tjitjih di  Sumedang dan kemudian bertemu dengan Abu Bakar Bafagih yang merupakan pendiri dari Opera Valencia, hingga wafatnya Miss Tjitjih saat mementaskan cerita Gagak Solo. Dalam pertujukan tersebut, sang sutradara, Imas Darsih sukses  menampilkan sosok Tjitjih yang menjadi primadona dalam dunia seni pertunjukan. Meskipun pertujukan sandiwara ini dibawakan dengan menggunakan bahasa Sunda, sekali lagi, sukses membuat penontonnya terhibur. Dalam hal ini, aktor dan sutradara berhasil menampilkan sesuatu yang mampu menarik perhatian penonton terlepas dari bahasa yang digunakan.

Sekilas Sang Primadona Miss Tjitjih

Sosok dengan nama Nyai Tjitjih ini, yang lahir di Pesanggrahan, Sumedang, Jawa Barat, 1908 menjadi sosok yang legendaris. Tjitjih berparas cantik, kreatif, dan penuh disiplin dalam berkesenian. Nyi Tjitjih bertemu Abu Bakar Bafagih saat pertunjukan sandiwara lokal di Sumedang yang dibintangi olehnya. Bafagih merupakan sosok yang bergerak bersama awal munculnya industri seni pertunjukan modern yang berbasiskan pasar di kota-kota besar pada masa Hindia-Belanda. Berangkat dari kelompok sandiwara “Bimanyurupa Bangsawan” seorang Abubakar Bafagih pada tahun 1920-an mendirikan kelompok sandiwara “Opera Valencia” dengan tetap mengembangkan cerita dan teknik sandiwara Bimanyurupa Bangsawan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu panggung ke panggung lain. Tahun 1926, Nyi Tjitjih bergabung dengan Opera Valencia yang dipimpin Abu Bakar Bafagih. Sebagai sebuah penghargaan pada tahun 1928 Opera Valencia diubah menjadi Miss Tjitjih Tonil Gazelschap. Opera yang awalnya berbahasa pengantar Melayu itu berubah menjadi berbahasa Sunda. Tahun 1928 rombongan Miss Tjitjih ke Jakarta dan menetap di tanah kosong sebelah Bioskop REK di Kramat Mudane Senen, Jakarta Pusat. Namun, Tuhan berkehendak lain, Tjitjih tidak dapat menikmati kemashurannya. Pada tanggal 27 Agustus 1939 Tuhan telah memanggilnya. Tjitjih meninggal di atas panggung saat memerankan cerita Gagak Solo.


Lakon fenomenal “Kuntilanak Waru Doyong” menjadi  penutup yang bagus dari  pertunjukan “Napak Tilas Sri Panggung Miss Tjitjih”. Sangat mengejutkan sekaligus membuat kagum para penontonnya.


Untuk Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih yang bisa dibilang tidak muda lagi, Bengkel Sastra mengucapkan selamat mengulang hari lahir yang ke-89. Semoga bisa terus mengembangkan dan melestarikan kesenian tradisi sampai generasi-generasi selanjutnya.

Salam, Bengkel Sastra.

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar