ESAI: Mencari Pijakan Membaca Waska

Mushab Askarulloh


Membaca (atau melihat) karya seni, tentu tidak bisa dilakukan dengan satu cara pandang saja. Estetika—baik itu bentuk maupun wacana—selalu bergerak menuju suatu upaya perubahan, yang didorong oleh sebuah pemikiran atau keadaan zaman. Sedehananya, kita tentu tidak bisa menyandingkan lukisan Da Vinci dengan lukisan Picasso, atau Frida Kahlo, dan melihatnya dengan perspektif yang seragam. Atau membaca puisi Sapardi dan puisi Afrizal Malna dengan pisau kritik yang sama. Masing-masing karya seni tentu memiliki substansi serta pijakan setetikanya masing-masing. Jika kita memaksakan suatu cara pandang tertentu terhadap jenis estetika yang beragam, tentu itu akan mencederai maksud dari seniman atau pengarang yang membuatnya.
Keberagaman tafsir merupakan salah satu efek dari melihat atau membaca karya seni, terutama karya sastra. Teks sastra bisa sangat menjebak pembaca ke dalam labirin tafsir yang kisruh. Jalan manakah yang dapat membawa kita mendekati kebenaran. Atau, bahkan mungkin pertanyaannya adalah apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kebenaran itu.  Maka dari itu, untuk mencapai sebuah destinasi tafsir yang (mungkin) benar, mula-mula pembaca juga harus bisa menemukan pijakan darimana ia berangkat.
Membaca teks-teks drama Arifin C. Noer, adalah seperti tersesat di labirin itu. Bahkan bukan hanya labirin, namun juga pintu-pintu yang bertebaran dengan simbol-simbol yang asing di setiap pintunya. Drama Arifin bukanlah sebuah jalan lurus. Pembaca membutuhkan sebuah formula dan bahan bakar pengetahuan yang cukup untuk bisa sampai ke garis akhir. Misalnya ketika membaca teks drama caturlogi Orkes Madun, terutama bagian keduanya, Atawa Umang-Umang. Di dalam teks ini, wacana-wacana saling berhamburan dan tumpang tindih. persoalan sosial yang menjadi arus utama, terus ditaburi dengan narasi-narasi lain seperti religiusitas dan keterasingan, yang kemudian mengalirkan arusnya masing-masing.
Selain hal-hal tersebut, yang paling menyita perhatian pembaca tentu saja adalah bagaimana Arifin menghadirkan tokoh Waska dan Semar. Kedua tokoh ini sejatinya adalah tokoh yang berbeda dengan peran yang berbeda pula, namun mereka hidup di dalam tubuh yang sama. Kemunculan masing-masing dari mereka seperti menjadi sebuah penanda telah bergantinya dimensi di dalam pertunjukan. Waska yang merupakan sebuah tokoh di dalam cerita utama, sesekali bertukar dengan Semar, yang sekaligus melepaskan dirinya dari tubuh pertunjukan dan mengambil peran sebagai semacam narator yang bercerita kepada penonton.
Fungsi Semar sebagai narator inilah yang kiranya perlu untuk dicurigai. Narator atau pencerita tentu memiliki fungsi sebagai penyampai cerita. Kita sebagai pembaca tentu sudah paham bahwa teks drama memanglah sebuah cerita. Lalu mengapa di dalam sebuah cerita—yang jelas-jelas kita sudah tahu betul bahwa ini adalah sebuah cerita—perlu sebuah penegasan bahwa ini memang adalah sebuah cerita?
Pada sekitar akhir abad 19 (atau mungkin awal abad 20) muncul seorang tokoh teater bernama Constantine Stanislavski. Ia memperkenalkan dan mengembangkan sebuah metode pertunjukan bernama realisme. Pokok pemikirannya adalah tentang bagaimana sebuah pertunjukan bisa dengan sempurna menghadirkan potongan-potongan dari kehidupan nyata di atas panggung. Metode ini terbukti sangat menyita perhatian dan dianggap penting di dalam khasanah seni pertunjukan dunia. Metode ini dianggap menjadi sebuah jalan keluar dari kebuntuan bentuk pertunjukan histronik yang mulai membosankan.
Namun, dalam pandangan sosialisme-kiri yang lebih tajam, bentuk estetika yang dibawa oleh Stanislavski ini justru dipandang sebagai sebuah ilusi yang memabukkan. ‘Realitas sebenar-benarnya’ yang dihadirkan di atas panggung ini menjadi sebuah katarsis, yang justru menciptakan dinding tebal antara pertunjukan dan kenyataan. Penonton dibawa hanyut terlalu jauh ke dalam realitas fiksi di atas panggung, hingga melupakan wacana-wacana di dunia nyata yang menjadi mimesisnya.
Menanggapi keresahan tersebut, beberapa tahun kemudian muncul sebuah gerakan estetika pertunjukan yang mencoba “mengembalikan” kesadaran penonton untuk melihat realita dan permasalahan-permasalahan yang terjadi di dunia nyata. Metode ini dikembangkan oleh Bertold Brecht dan diistilahkan dengan nama “teater epik”. Teater epik, dalam pertunjukannya, selalu berupaya menghadirkan guncangan-guncangan, untuk mencegah dan menyadarkan penonton dari keterhanyutannya dalam menonton pertunjukan. Ia selalu berupaya menyadarkan penonton bahwa apa yang sedang disaksikannya di atas panggung adalah hanya sebuah kebohongan. Bahwa realitas yang sebenarnya adalah apa yang terjadi di luar sana, di dunia nyata.
Banyak cara yang dapat dilakukan dalam metode ini, salah satunya adalah dengan interaksi antara pelaku pertunjukan dengan penonton. Cara ini dianggap efektif menghancurkan dinding ilusi pertunjukan, dan menyadarkan penonton bahwa apa yang sedang mereka saksikan adalah semata-mata sebuah dunia fiksi.
Dalam teks drama Umang-Umang, Arifin seperti ingin mengadopsi metode teater epik ini. Transformasi Waska menjadi Semar dan lepasnya dia dari tubuh pertunjukan, seolah menjadi sebuah tamparan keras bagi penonton, untuk menyadarkan bahwa ini memang hanyalah sebuah dunia pertunjukan yang fiktif. Tentu ini bukan tanpa sebab. Arifin tentu tidak main-main dengan bentuk pertunjukan seperti ini. Dia tidak ingin narasi-narasi tentang orang-orang terpinggir, tentang tatanan dan keadaan sosial yang kacau ini hanya menjadi tontonan sepintas lalu. Seperti juga Brecht, Arifin ingin mengawal gerak-pikir penontonnya menuju kepekaan terhadap realitas sosial di dunia nyata.
Seperti yang sudah disebutkan di awal, membaca sebuah teks sastra tentu membutuhkan pijakan estetika yang tepat dan sesuai kebutuhan untuk menghindari kesalahan-kesalahan tafsir. Terutama kepada teks pertunjukan. Penafsiran yang semena-mena terhadap teks drama tentu akan menciptakan pertunjukan yang nirsubstansi dan banal. Sebagai pegiat seni pertunjukan, tentu kita tidak menginginkan hal tersebut.

Jakarta, 24 Maret 2017

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar