CERPEN: Reversi

Reversi
Malika Tazkia


Ilustrasi oleh Andriani



Perempuan itu seperti menolak eksistensi dirinya sendiri. Menolak setiap inci dari tubuhnya sendiri. Dan mati, dibunuh waktu yang merambati pembuluh darahnya. Ia tak lagi menyadari detak jantungnya sendiri, dan menjadikannya lagu pengantar untuk bercengkrama dengan kematian. Mungkin baginya, mati tak lebih sakit dibanding hidup. Aku hanya gadis yang sempat tinggal di dalam rahimnya. Terkadang aku mendengar ia melagukan elegi lamat-lamat. Namun tiada satu pun lagu penyesalan di antaranya. Padahal, ada sejagat tanya yang merambati kepalaku, mengapa?
Terkadang, ia menyuguhkan senyum tipis sambil mengusap-usap tangan kirinya sendiri. Tangan kiri yang penuh lebam membiru. Kegeraman lelaki itu adalah pemicunya. Hingga kini aku tak juga mengambang pada titik paham terkecilku. Ia tak juga jujur pada hatinya walau lelah bukan lagi kata yang cocok untuk dirinya. Ia mati ketika hidup, menumpuk berlapis-lapis ikhlas yang tak patut diikhlaskan. Ia menikah tanpa merasakan cinta, karena mata tak tahu cara berdusta. Entah dengan cara apa, ia bertahan bertahun-tahun.
“Ini memang salahku. Ayahmu memang temperamen, tapi ia laki-laki yang kuat. Orangtuaku tak salah menikahkanku dengannya. Karenanya pula, aku bisa memilikimu. Jangan merajuk, aku tidak merasa sakit.” adalah dusta yang telah letih—tertatih-tatih—menyusupi kedua telingaku. Dan juga dusta-dusta lain yang sering mampir ketika protesku dilancarkan. Aku tak ingin berakhir seperti itu, maka selepas melihat senyum pretensi miliknya untuk yang kesekian kali, aku mulai menghitung mundur, mencoret angka-angka di permukaan kalender. Di penghujung tahun, aku akan pergi dari tempat ini, melarikan diri bersama kekasihku. Sebelum aku berakhir sama dengan ibuku yang bodoh.
“Cepatlah selesaikan studimu,” ujar lelaki itu.
Untuk apa?
Kemudian lelaki itu akan memijit tombol ponselnya yang sudah ketinggalan zaman, memperlihatkan foto beberapa pemuda kaya yang katanya tak keberatan meminangku. Dengan mendesak, ia menuding kertas-kertas berisi hasil studiku yang tidak bisa dikatakan berhasil. Aku mendengus keras. Ia bahkan tak pernah merasakan duduk di bangku kuliah, dan tak tahu betapa sulitnya mengejar angka sempurna. Suatu saat aku akan benar-benar dipaksanya menikahi mesin duit.
Detik dalam hidupku yang sanggup kuhargai hanyalah saat mencium bau kopi yang mengepul hangat dari mesin otomatis milik kekasihku. Ia akan menyalakan dua lilin putih kecil di dua sisi meja dan menyetel lagu jazz setelah memadamkan seluruh lampu. Mendengarkan keluhan berantai dari bibirku, kemudian menyanjungku bertubi-tubi. Remai pada seluruh tubuhku kemudian akan luruh menyesapi ubin di bawah kaki kami. Ia punya segala hal manis hingga aku yakin di balik rak-rak buku miliknya tersimpan puluhan cincin perak yang setiap malam berulang kali dipilihnya untuk melamarku.
“Aku akan membawamu pergi jauh akhir tahun ini.”
Kupastikan ia tak berdusta. Setelahnya setiap malam kuabsen benda-benda yang akan kubawa pergi. Tak perlu terlalu banyak blus dan rok renda. Yang penting aku bisa meregat jarakku dengan bahagia yang selalu timbul tenggelam, tak terpeluk. Kulayani keinginan lelaki itu, ayahku. Dengan sedikit berdandan, kusambut kedatangan beberapa lelaki kaya di ambang pintu kayu rumahku. Makan sedikit, berbincang mengenai ambisi-ambisi kosong, mendengarkan mereka memamerkan kekayaannya, berpura-pura tertawa, mengantar mereka hingga gerbang depan, dan melambaikan tangan pada Alphard atau Ferarri yang meluncur dengan bunyi mesin merdu.
Sebentar lagi, sebentar lagi.
Kusortir beberapa buku dan kumasukkan ke dalam tas ransel tak bermerek milikku, beberapa sepatu murah, kosmetik, dan beberapa CD musik band favoritku. Hari berikutnya, kukeluarkan lagi benda-benda itu dan kusortir ulang. Persiapanku tak boleh salah. Aku tak akan kembali lagi ke rumah ini. Maka aku berkutat dengan berulang kali yang nyaris tak selesai. Di antara hari-hari itu, kubeli kain bahan mahal, dan kunyalakan mesin jahitku, merangkai berlapis-lapis daster dan blus cantik untuk ibu. Kuganti air pada vas-vas bunga di sisi jendela, menulis dua lembar surat, dan menyelipkannya pada tumpukan seprai bersih. Kutatap wajah kuyu itu. perlahan, pelan-pelan. Keriput itu, seakan membelah diri setiap hari. Kutahan apa yang sesungguhnya tak bisa kutahan. Dengan tak rela kulepaskan tangis pelan-pelan, kurengkuh ia, menerima respon lemah yang sudah biasa kulihat.
“Aku akan pergi, Bu.”
Ia tersenyum.
“Aku akan pergi. Segera.”
Tak sedikit pun digesernya kedua bola mata itu.
“Kau tak mengerti, Nak. Kau tak mengerti,” bisiknya datar.
Aku ingin kembali menangis, tapi tak sudi.


***


Aku percaya dapat menyentuh cakrawala—pun percaya dapat memiliki kelembutan awan yang menaunginya. Segalanya mungkin kala aku menatap kedua hitam legam matanya. Ia tiba, tiba-tiba, mengurai rindu yang tak habis-habis. Mata yang sama sekali berbeda dengan milik lelaki bertitel ayah itu. Mata yang menjanjikan bahagia. Jika jatuh cinta memang harus sepekat ini, maka akan kubiarkan diriku tenggelam dalam-dalam. Pertemuan kami tak istimewa, hanya sepaket lirikan-lirikan yang sembunyi di balik cangkir kopi. Namun, kali pertama aku melihatnya, kala itu pula aku takut kehilangannya.
Suara jerit dan tangis yang menggema di sepanjang lorong kepalaku tergantikan dengan miniatur surga yang dibangun pelan-pelan olehnya. Kenangan buruk berlipatan dan melayang-layang samar di permukaan imaji. Jika ada waktu yang lebih abadi dibanding selamanya, akan kupilih untuk menetap bersamanya. Tentu, begitu ia berkata akan membawaku pergi jauh, egoku berkumpul dan aku tak butuh banyak waktu untuk memilih—hingga akhirnya aku selesai mengepak barang—dan yakin dengan segala yang kusiapkan matang-matang.
Sesaat setelah pergantian hari, selepas kembang api lelah menyulut langit, saat jarum jam bimbang di antara angka satu dan dua, kujinjitkan kaki agar langkahku luput tak terdengar. Kuseret koper berukuran sedang perlahan, menuju beranda rumahku yang kini terasa sedikit lebih hangat. Kemudian, kunaiki taksi yang sudah beberapa jam lalu kupesan. Rumah kekasihku akan menjadi tempat kami duduk sebentar menikmati detik-detik sebelum kepergian kami. Ke tempat jauh, seperti yang dijanjikan olehnya.
Aku merenung sekali lagi, mengingat wajah ibu yang terlihat gamang. Walau kuajak ia ikut serta, ia pasti akan segera menolak. Ia telah mengabdikan hidupnya untuk orang sekejam ayah. Tak terhitung lebam di permukaan kulitnya, namun tetap tinggal di sisi ayah bukan lagi sebuah opsi, melainkan kewajiban. Aku tak bisa membiarkan diriku merasa bersalah. Karena seluruh letak kesalahan hanya ada pada poros kehidupan di rumah itu. Aku memang harus pergi, segera atau tidak.
Senyum tak lagi luput kala aku menjejakkan kakiku di pekarangan rumah kekasihku. Tempat di mana kami bertukar cerita di antara kepulan uap kopi dan terang lilin. Perlu waktu beberapa lama sebelum senyumku memudar, seiring langkah kakiku. Tak terlihat Datsun biru yang biasa terparkir di garasi rumahnya. Kupercepat langkahku, memencet bel satu kali. Tiada jawaban. Tiada suara. Sekali lagi kutekan bel itu, kuketuk pintu beberapa kali, dengan agak putus asa. Hanya kekosongan yang menjelma jarum-jarum beku—mencengkram tengkukku—memicu ketakutan di dalam dadaku.
Lewat jendela kaca tembus pandang, dapat kulihat perabot yang hilang seluruhnya. Rak buku, meja kecil, mesin kopi, kursi kayu, dan dua buah sofa tak dapat lagi terlihat. Aku mulai merasakan sesak yang tak terperikan. Di antara dinding-dinding beton, ruang itu melirihkan kekosongan yang pedih.
Tak lagi dapat kuhitung berapa kali kuketuk pintu itu membabi buta, di antara asa yang sirna.


***


Pagi yang lembab.
Seorang lelaki dengan keriput pasti di beberapa titik wajahnya tengah menyusun bongkah es, perlahan, dengan wajah sedih yang dalam. Dari ujung matanya, ia kemudian menangkap kehadiran sosok yang berjalan melalui pintu belakang. Satu lagi lebam tercipta pada wajah cantiknya yang di ambang renta. Dengan tenang, Ia duduk di sebuah kursi kayu, menghadap lelaki itu. tangis, lamat-lamat menjejaki wajah sang lelaki. Air mata yang selalu sembunyi, diam-diam di balik wajah kerasnya. Ditatapnya lekat-lekat wanita itu.
“Maafkan aku.”
Sebuah senyum kembali hadir pada wajah wanita itu. Ia telah menghapal lika-liku jalan pikiran lelaki itu. Tak pernah ada emosi yang meninggi pada dadanya karena itu. Dibiarkannya jemari lelaki itu bergerak lembut mengompres bekas biru pada pipinya di antara lirih tangis. Ini selalu terjadi, ia tahu. Lelaki itu perlahan mengecup punggung tangannya.
Melalui air hangat yang berguling bertubi-tubi, cinta menghujan tak berkesudahan dari kedua bola mata lelaki itu.


***

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar