Cerpen: Jangan Suka Lempar Batu

Jangan Suka Lempar Batu
Khurin Nurlaili Imandini

Ilustrasi oleh Andriani

Sebuah batu sedang tersenyum dalam genggaman laki-laki bernama Kusno. Kalaulah sebuah batu punya tangan, mungkin kini ia tengah melambai-lambai pada ikan-ikan di sungai. Ikan-ikan menangis bahagia bercampur tidak siap kehilangan sahabat, begitu juga Si Batu, Pramudi namanya. Nama itu ia dapat dari tiga orang sahabatnya yang seekor ikan, Merry, Bella, dan Leo. Batu punya nama, ikan pun punya namanya masing-masing. Kakap, mujaer, lele, sepat, kalau saja semua ikan di kali tahu diberi nama yang seragam dan begitu buruk oleh manusia, sahabat-sahabatnya itu pasti merasa sedih. 
Sejam lalu diangkatlah Pramudi dari dasar sungai, kadar air dalam tubuhnya sudah menurun sampai separuhnya, pori-pori halus di tubunya dilewati udara lagi setelah puluhan tahun terisi hanya oleh air. Si Kusno, tukang seser ikan yang beberapa kali kakinya sempat menginjaknya di kali, menaruhnya di dalam saku. Di dalam tak kelihatan apa pun selain dua uang logam lima ratusan, sebatang rokok, korek api, dan dua lembar lima ribu rupiah. Tadinya sepi, sampai sebatang rokok tinggal separuh di mulut Kusno, kemudian terdengar suara ibu-ibu, bau ikan asin, bunga kecombrang, dan darah ayam. Lima menit kemudian suara tiga bocah tanggung nongol, bunyi tektaktektak keypad handphone, suara mbah-mbah, bapak-bapak, dan tak lama setelah itu sebuah kalimat yang ia pernah kenal dari cerita Merry mampir di telinganya, “Ikan hiasnya bu, dua puluh ribu lima, sepuluh ribu dua, tujuh ribu satu.” Nada bicara orang padang, tak salah lagi dulu Merry pernah jadi ikan dagangan di pangakalan angkot depan SMP Negeri di depan pasar ikan. 
Suara mesin angkot berderu, Pramudi berpindah pada keramaian lain, tapi bau amis, bau sirih, ayam potong, kecombrang, dan solar, makin bercampur dengan macam-macam bau keringat penumpang.
Kusno menyalakan rokok keduanya. Pramudi tertidur di dalam saku. Dalam tidurnya ia bermimpi tentang seorang anak yang dulu membuatnya hidup di dasar kali selama puluhan tahun. Sesungguhnya ia benci luar biasa karena anak itu membuatnya hidup lembab dan kedinginan di dasar kali, namun rasanya tidak pantas ia membenci bocah yang hidupnya sudah begitu malang.
Namanya Bonang, hampir tiap hari ia memancing di pinggir kali agar adik-adiknya yang masih balita bisa makan dengan lauk ikan. Tiap ketahuan datang, ketiga sahabatnya akan mengkordinir ikan-ikan lain untuk sembunyi di bawah akar pohon bambu. Tak jarang setiap magrib tiba Bonang pulang dengan tangan kosong sambil menangis karena membayangkan adik-adiknya makan nasi garam lagi malam ini.
Ia ingat benar rupa anak itu, rupawan, putih bersih, sedikit kumisan, tapi cengengnya bukan main. Sore itu ia tengah menangis di pinggir kali sambil memanggil-manggil nama mantan kekasih yang baru saja memutuskannya lewat surat sejam yang lalu. Belum lama ini salah seorang teman mengadu padanya sering melihat perempuan yang paling ia cintai itu dibonceng oleh anak kolektor barang antik pindahan dari kota, anak orang paling kaya di desanya.
***
Pagi itu, udara masih menusuk tulang. Seperti hari-hari lainnya, saat itu Bonang menempatkan “teman putih” di kantongnya. Menunggu waktu kosong untuk sekedar menghirup kepulan manis, yang semanis senyum Armita.
Bonang melangkah tidak sabar. Aku terantuk, atau tepatnya terkocok-kocok dengan teman putih di kantongnya, dengan empat keping uang logam lima ratusan. Jelas ada pemicu dari langkahnya ini. Tidak peduli, batu tetaplah batu. Kasihan teman putihnya ini, hampir remuk terkocok. Bonang bodoh. Batang serapuh ini dataruh dalam kantong sesak. Pantas saja ia tak punya uang.
Kali ini derap langkah Bonang berbeda dari biasanya. Biasanya, dengan melangkah kira-kira tiga ribu hentakan kaki, ia sudah duduk pada sekumpulan orang-orang seusianya. Tapi kini, setelah hampir lima ribu sembilan ratus delapan puluh enam hentak kaki—baiklah—sekarang genap lima ribu Sembilan ratus delapan puluh enam, ia belum juga duduk.
Tiba-tiba, aku melihat batang putih di sampingku diremas. Baiklah, ia sempurna hancur sekarang. Bonang bodoh. Sekarang tangannya berpindah mencari sesuatu. Aku. Aku diremasnya. Getaran emosinya menjalar dari remasannya. Ada sesuatu terjadi, entah apa, tapi sesuatu pasti terjadi.
Brem… brem… brrrrrrrrrrr… bising sekali suara itu. Bau bensin. Dengan gerakan spontan, Bonang berhenti meremas.
“Huk huk huk huk!” ia batuk, pastilah bau itu bau asap motor.
Tidak ada suara lagi setelah suara batuk. Hening bersama batang putih yang remuk di depanku. Hening ini begitu pedih. Disusul hentak kaki, kini hentaknya lebih cepat dari yang tadi, sepertinya Bonang berlari.
***
Tuk. Tuk. Putaran tujuh puluh derajat, tuk. Lima puluh derajat, tuk. Sembilan puluh derajat, tuk. Seterusnya dengan derajat tak karuan, aku diantuk pada sebuah meja. Bocah-bocah dengan seragam sama dengan Bonang, dengan usia sepantaran, duduk pada meja lain di depan meja Bonang, dekat abang-abang ketoprak, mi instan, dan warteg. Aku melihat matanya jauh menerawang. Matanya lalu digiring ke sebuah langkah gemulai, bocah putih perawakan padadjaran.
Semakin mendekat, semakin mendekat.
“Hai.” Sapanya. Sebentar Bonang terpana, lalu “hei”, sapanya.
Tahi lalat di ujung matanya, terbingkai poni mendayu-dayu, dihempas angin kipas angin. Sudut bibir ranumnya mengembang. Ah. Batu pun faseh berkata manis sekali.
“Kau baik-baik saja?” Tanya perempuan itu.
“Y, y, ya! Tentu! Aku cukup baik.” Bonang bodoh. Terang sekali dia gugup. Bengongnya amat tegas.
“Ayolah Bonang, jangan membuatku tersipu.” Rupanya ia tertawa atas basa-basi yang dilontarkannya sendiri. Wah, manisnya.
“Aku menyesal menatap matamu hari ini Armita!” sungguh aku tidak paham, peristiwa apa yang aku tidak saksikan. Bonang seketika itu berubah. Jika aku manusia, suasana ini dingin menusuk tulang rusuk terdalam.
Terlihat pula ekspresi nona ini. Ia tahu tawanya, segera akan membawa pilu. “Aku pergi bersama Mas Kus”
“Ya, aku tahu.” Bonang menatap datar. Tidak perlu ada kata lagi terlontar. Ia yakin akan ada penjelasan tanpa diminta.
“Ia sudah ada didepan rumahku saat aku keluar rumah.” Benar saja, keyakinannya membuktikan Armita membuka sebuah penjelasan.
Diam, jeda antara Bonang, Armita, aku, dan meja, dan beberapa pasang mata yang melirik kami.
“Lalu?” Bonang mengalah memecah diam.
“Aku tahu Ayah yang menyuruhnya menjemputku.”
“Lalu?”
“Aku pergi ke sekolah bersamanya, tapi aku mampir sebentar ke rumah kakek membawa nasi rantang.”
“Lalu?”
“Tidak adakah kata selain lalu yang keluar dari mulut itu, Bonang?” Armita jengah dengan lontaran “lalu” dari mulut Bonang, menegaskan penjelasan dari mulutnya bak angin lalu.
“Lalu?”
Armita mengangkat alis, sungguh bebal pria di depannya ini. Tidak adakah kata lain selain “lalu” dalam percakapan ini?
“Baiklah, lalu aku melihatmu menatapku bersama Mas Kus.”
“Lalu?”
“Aku minta maaf.”
“Tidak perlu.”
“Tidak, Bonang, aku perlu minta maaf. Sepertinya kita cukup sampai di sini.” Armita tercekat. Nampak sekali di wajahnya.
“Boleh aku berkata sesuatu, Armita?”
“Ya, tentu.”
“Pergilah.” Demi apa pun, suasana ini, tidak terdeskripsi.
Terlihat Armita diam. Bahkan dengan menundukkan kepalanya pun ia terlihat indah dan manis dengan dayuan poni miliknya. Sungguh kontras keindahannya dengan suasana ini. Tidak mampu menjadi deskripsi. Tentu Bonang tidak tahan melihat reaksi Armita.
Menjilat ludah bukan pilihan bagi seorang Bonang, betapa pun ia menyesal, dan ingin melakukan sesuatu, ia tak mungkin menjilat ludahnya sendiri. Akhirnya Ia berdiri, pergi tanpa sepatah kata untuk ditinggalkan demi Armita yang terdiam.
Lagi. Aku diremas bonang.
***
Oh sungguh bonang, banyak yang tidak kau ketahui. Aku pun tidak mau kau mengetahui.tapi ini berat bonang, sementara hanya dua kata dalam perbincangan tadi yang keluar dari mulutmu. Apa dayaku Bonang. Ayah tidak mau aku bersamamu. Aku yakin kau tahu itu. Tidak banyak yang mampu kau usahakan Bonang. Maafkan aku.
***
Bonang cuma bisa menangis melihat pacarnya pergi bersama Mas Kus, anak kuliahan parlente yang tunggangannya motor ninja hijau tua itu. Boro-boro kuliah, Bonang bahkan tiga tahun lalu tidak sampai lulus SMP karena uang SPP-nya harus dipakai buat bayar operasi sesar adik ketiganya. Bonang melamun sebentar, lalu menangis lagi.
“Armita, Armita.” lirih-lirih nama itu bergantian dengan isak tangis. Ia geram tak bisa merebut lagi kekasih hatinya. Diremasnya Si Pramudi yang berada di samping tangannya, tangan itu mengayun, Pramudi melayang, tubuhnya menghempas permukaan air. Apa mau dikata, alam sudah punya aturannya sendiri, massa jenis Pramudi lebih besar dari massa jenis air, jadilah ia perlahan-lahan sampai ke dasar kali.
Pramudi terbangun dari mimpinya, apa kabarnya ya si bocah cengeng itu?
Ia terbangun di tempat yang lain lagi, di rumah orang paling kaya sedesa Kali Amba. Ah, sekarang orang-orang desa ini sudah banyak yang kaya, ya, Pikirnya. Saking lamanya terheran dengan rumah megah dan koleksi kristal yang berjejer di lemari, ia sampai tak sadar sudah tak lagi dalam tangan mrengkel Kusno, melainkan di tangan putih alus perempuan yang suaranya lembut.
“Mas, tadi kaca rumah kita pecah lagi dilempari batu.”
“Biarlah Ar, mungkin Mas Kus masih dendam padaku.” Laki-laki itu menghela napas, lalu melipat koran sorenya sejenak.
Heh? Si Bonang? 
“Bukan padamu mas, tapi aku.” Armita lirih.

***

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar