CERPEN: Dantjé

Dantjé 
Bima Dewanto
Ilustrasi oleh Khurin Imandini

Setelah masuk ke liang lahat, semua berubah gelap. Wangi melati yang sedari tadi menemani saya sepanjang perjalanan kini telah hilang. Hanya tanah dari dalam liang dan kayu dari peti yang memancarkan bau dari dalam sini.
Setelah masuk ke liang lahat, semua berubah gelap. Lantunan doa pengantar yang sedari semalam saya dengar begitu indah kini hilang perlahan berbarengan dengan ditutupnya liang. Suara isak tangis yang saya dengar menderu-deru senyap seketika.
Setelah masuk ke liang lahat, semua berubah gelap. Perlahan saya mulai mengucapkan salam untuk kegelapan yang kini menjadi teman saya di dalam sini. Aroma kayu dan tanah juga berbalik mengucapkan salam selamat datang bersama dengan berbaringnya saya di dalam sini.
Seperti nyawa mulai kembali, jiwa datang lagi, raga bergerak perlahan membuat jemari menari kecil. Baru sekitar sepuluh menit saya tidur di dalam sini, bosan sudah datang. Sama halnya seperti yang saya lakukan semasa hidup, bernyanyi. Melantunkan sebuah lagu yang mungkin bisa membuat kebosanan ini luntur. Sebelum malaikat datang ke ruangan sempit ini dan melakukan interview selama masa hidup saya. Bedanya kali ini tidak diperlukan daftar riwayat hidup dan sertifikat yang biasanya dibutuhkan. Saya di kuburan.
“I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I think to myself what a wonderful world”
Lirik demi lirik saya lantunkan perlahan, namun bosan tidak juga hilang, pergi meninggalkan saya. Kemana malaikat yang katanya akan datang menemui saya? Cepat datang, saya bosan. Walaupun saya tahu nantinya saya akan dihakimi karena perbuatan saya semasa hidup. Tapi setidaknya ada kegiatan yang dilakukan di dalam sini selain memandangi gelap dan menghirup bau tanah. Apa mereka tidak akan datang?
Saya berharap kehidupan baru saya di liang ini tidak sama seperti di dunia. Pasalnya, kesepian selalu menemani saya selama hidup. Saya lahir tanpa ibu yang menyusui saya dan ditemani ayah yang fisiknya saja tidak pernah saya sentuh karena bekerja pagi bertemu pagi. Belum lagi sanak saudara yang tinggalnya sangat jauh dari rumah. Tetangga saja enggan mengenal keluarga saya karena rumah yang selalu tertutup.
Sekolah, saya hanya bermain dengan sebuah buku catatan yang menampung banyak materi yang saya pelajari. Tidak bosan saya baca berulang-ulang baik untuk memahaminya kembali atau hanya sekedar iseng. Jarang sekali satu, dua orang yang menjadi teman untuk saya karena pribadi saya yang tertutup.
“I see skies of blue and clouds of white
The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself what a wonderful world”
Itu lanjutan lagu yang saya lantunkan, tapi suaranya datang dari liang di sebelah saya. Suara wanita, tidak begitu bagus, malahan rapuh. Tapi saya terhanyut mendengarkannya. Perasaannya tulus melantunkan lirik tiap lirik.
“Saya terkesan.” puji saya yang masih mendengarkan suaranya.
Lagu terhenti, mungkin ia hendak menjawab pujian saya. Sekedar ucapan terimakasih mungkin.
“Saya rindu hidup.” katanya.
Saya mulai memikirkan kalimatnya barusan. Berarti ia telah lama berbaring di sini. Mungkin ia adalah seorang nenek yang mati karena sakit sehingga ia merindukan anak dan cucunya.
“Saya rindu ketika kelambu menutup rapat ranjang ketika saya tidur dengan gaun tebal.” lanjutnya, cerita yang tidak saya tanyakan.
“Teriakan ayah yang memerintahkan pesuruh untuk menghukum pribumi yang tidak menyerahkan hasil taninya”
Kebosanan yang saya rasakan mulai berganti dengan kebingungan yang menindih saya lebih rapat dibandingkan tutup peti di atas saya sekarang.
Kemudian ia menceritakan kehidupannya yang lebih sepi. Dantjé namanya, seorang anak keturunan Belanda yang tinggal ikut ayahnya semasa penjajahan dulu. Ayahnya adalah seorang jenderal yang berkuasa untuk mengambil hasil tani dan kebun para penduduk pribumi. Dantjé bahagia ketika nyawanya di lepas dari raganya. Sebab semasa hidup yang dirasakan hanyalah kesendirian.
Ayahnya sibuk menginjak-injak pribumi yang menentangnya. Ibunya sibuk memamerkan kekayaan curiannya dengan teman-teman sebangsanya yang tinggal di sini. Adik laki-laki yang saat itu berumur lima tahun dipaksa untuk berlatih perang guna melanjutkan takhta ayahnya nanti. Sementara dirinya sendiri, Dantjé yang sepi.
Kehidupannya sehari-hari hanya untuk menunggu setiap lelaki Belanda yang datang untuk melamarnya. Tetapi lelaki yang diharapkan tidak pernah datang.
“Saya bakar foto-foto lelaki yang diberikan ibu kepada saya untuk memilihnya menjadi pendamping hidup. Semuanya adalah anak jenderal dan atau yang lebih tinggi.” paparnya.
“Saya mencintainya. Lelaki yang membawakan ayah hasil tani dan membawakan saya sebotol susu.” lanjutnya.
Jadi ini masalah cinta yang sering saya baca dari buku-buku klasik semasa hidup dulu. Kesepian yang ia rasakan ternyata jauh lebih dahsyat daripada saya. Kesepian batin, sebut saja. Saya merasakan semua emosi yang ia pendam semasa hidup tertuang di dalam sini. Sementara saya menunggu malaikat yang ‘katanya’ akan menemui saya.
Kemudian ia menceritakan tentang lelaki itu. Lelaki yang membawakannya susu. Pribumi yang sangat rajin menyetorkan hasilnya kepada sang jenderal. Walaupun ia tahu itu berat baginya dan hasil yang diberikan juga sama sekali tidak mengandung ikhlas di dalamnya. Tapi ini yang dikagumi olehnya, konsistensi. Bukan. Bukan konsistensi.
Lelaki itu pernah bilang bahwa hasil tani yang diberikan tidak ada apa-apanya selain bisa melihat Dantjé. Ia memberikan hasilnya agar bisa berkunjung ke kediaman jenderal dan menatap Dantjé. Satu, dua, hingga hari-hari berikutnya mereka berdua semakin dekat. Dantjé sudah bisa menghilangkan rasa kesendiriannya itu.
Tapi memang benar adanya cerita Romeo dan Juliet. Jenderal mengetahui kedekatan mereka dan melarang Dantjé berhubungan dengannya. Lelaki itu dibuang dari desa agar tidak pernah bisa menemui Dantjé kembali.
Bulan demi bulan ia lalui tanpa tatap muka dengan lelaki itu. Kesepian yang merangkulnya kembali bukan apa-apa dibanding rasa rindu yang lebih besar. Dantjé tidak betah dengan kesendiriannya di kamar dan pikirannya yang terus menuju ke lelaki itu. Raganya masih utuh namun jiwanya hilang pergi terbawa olehnya. Sudah tidak ada lagi rasa dalam tubuhnya saat ini. Merasakan tidak berguna-nya hidup di dunia, Dantjé memutuskan untuk mengakhiri masanya.
“Saya minum saja susu yang telah saya simpan selama berbulan-bulan lalu untuk mengobati rasa rindu.” katanya.
Kemudian saya mencoba berani bertanya kepadanya, “lalu apa rindu itu hilang?”
“Hilang. Rindu itu lenyap bersamaan dengan nyawa saya.” Hingga akhirnya ia mati dan dimakamkan di sini.
Kemudian saya diam sejenak memikirkan apa yang telah ia ceritakan. Saya teringat kembali soal malaikat yang ‘katanya’ akan menemui saya. Tapi hingga sekarang, mereka tidak kunjung datang.
“Kemana malaikatmu?” Tanyanya kepada saya, seakan-akan ia tahu apa yang sedang saya pikirkan.
“Tidak tahu. Saya memikirkannya sedari tadi.”
Kemudian ia diam dan percakapan kami sempat habis sampai di situ.
“Mereka tidak akan datang ke sini.” katanya kembali berbicara.
Sontak saya dibebani bingung yang lebih berat dari sebelumnya. Bukankan sudah takdirnya untuk malaikat datang menjumpai orang yang baru saja dimakamkan?
“Jika kamu mau didatangi, maka pindahkan makammu ke tempat lain.”
Apa-apaan ini. Masa iya saya pindah makam.
“Mereka tidak ingin berkunjung ke makam saya. Begitupun dengan makam yang berada di dekatnya”
“Kenapa? Bukannya sudah tugas mereka?”
Dia terdiam lama. Hingga akhirnya tidak ada lagi percakapan di antara kami. Setiap halnya membuat saya bingung. Lihat saja dari awal ia melanjutkan lagu yang saya nyanyikan. Memangnya sudah ada lagu itu sebelum ia meninggal? Lalu, apa iya susu yang membuat nyawanya hilang? Belum lagi pertanyaan saya tentang malaikat yang enggan datang ke makam ini.
Semuanya membuat saya bingung. Sangat bingung. Hingga saya lupa kejenuhan yang saya rasakan.
“Kamu tahu…” katanya yang kembali membuka perbincangan.
“Malaikat benci kesepian” lanjut-nya.
___
“Yes, I think to myself what a wonderful world”
___


Jakarta, 9 Februari 2017

Allianz Tower 29th Floor

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar