Festival Drama Pendek SLTA 2017: “Gesek! Gesek! Gesek!”



Festival Drama Pendek SLTA 2017: “Gesek! Gesek! Gesek!”
oleh Bima Dewanto

G:\Kelimpungan copy.jpg

“Gesek, gesek, gesek!”
Terdengar dialog yang disuarakan oleh salah satu kelompok teater yang mengikuti lomba di hari terakhir Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) pada hari Minggu, 19 Februari 2017 yang dilaksanakan di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan.
Kompetisi drama pendek yang ditujukan bagi siswa SLTA ini menjadi rumah bagi para pencinta teater untuk kembali menyaksikan bagaimana keseruan selama pertunjukan berlangsung. Terlebih, mayoritas sutradara untuk setiap pertunjukan ini merupakan mantan aktor yang bermain pada Festival Teater SLTA 2016 silam.
Kami mendapatkan kesempatan menyaksikan salah satu penampilan drama dari Teater 45 Perjuangan yang merupakan Juara Umum Festival Teater SLTA 2016 lalu. Dengan membawakan naskah yang berjudul "Kelimpungan Tolong!" karya Sarah Nurmala, lakon ini disutradarai oleh Asti Adi Anti yang mendapatkan predikat Sutradara Terbaik tahun lalu. Naskah ini merupakan naskah kedua yang dibawakan oleh Asti ke atas panggung setelah “RT. 4 RW. 5” yang membawanya berhasil mendapatkan predikat tersebut.
Lakon “Kelimpungan Tolong!” bercerita tentang kelakuan anak-anak muda zaman sekarang yang sering mengikuti trend ter-update di media sosial. Para tokoh merayakan ulangtahun Limpung (diperankan oleh Yardanul Mukhsin) saat tengah malam. Limpung merasa bahagia karena teman-temannya mengingat tanggal ulang tahunnya itu. Belum lagi, mereka memberi kejutan dengan beramai-ramai menggendong Limpung dan menggesekkan kedua selangkangannya di tiang listrik.
Gesek, gesek, gesek! Enak, enak, enak!” teriak mereka beramai-ramai.
C:\Users\Desi\Documents\Bima\Flashdisk\P_20170219_144212.jpg
Perbuatan ini dilakukan terus-menerus hingga mereka sadar bahwa Limpung tengah tidak sadarkan diri. Matanya terpejam, badannya lemas, hingga semua teman-temannya panik. Memang dasar kelakuan anak zaman sekarang, akalnya ada-ada saja. Entah ada yang membacakannya doa, ada yang hanya berteriak-teriak saja, dan ketika mereka semua merasa perbuatan mereka tidak ada gunanya, melarikan diri dijadikan jalan keluar.
Gelak tawa penonton terdengar saat melihat ibu-ibu yang sedang menonton televisi di depan warung miliknya tidak merespon apa-apa, mematung sambil menonton siaran televisi yang saat itu sedang menayangkan kartun Upin Ipin.
Hingga akhirnya salah satu pengendara motor datang, seorang driver ojek online wanita (diperankan oleh Nadia Rizqi). Penonton kembali berdecak kagum karena pemain dengan berani membawa sepeda motor ke atas panggung. Dialog awal si driver adalah luapan emosinya, sebab penumpang yang dijemputnya tidak memberikan arahan yang jelas, tentang dimana ia ingin dijemput. Kemudian ia sadar bahwa ada Limpung yang mengeluh kesakitan sedang terkapar di pinggir trotoar.
Terjadilah percakapan antara mereka berdua. Dari adegan ini, maksud penulis naskah lumayan tersampaikan, yaitu kesadaran masyarakat untuk saling menolong yang sangat sedikit. Namun, si driver mengharapkan imbalan jika Limpung ingin segera dibawanya ke H. Naim (tukang urut setempat). Limpung berjanji akan mempertemukannya dengan Boy, artis pemain sinetron yang merupakan idola dari si driver, walaupun Limpung tahu ia tidak akan mungkin mempertemukannya. Pikirannya saat itu hanyalah yang penting ia tertolong.
Kemudian, si driver berdiri di pinggir jalan untuk mencari pertolongan. Lewatlah dua sepeda motor yang masing-masing ditumpangi oleh tiga orang anak perempuan. Penonton akan mengerti bahwa mereka adalah cabe-cabean. Di adegan ini, gelak tawa penonton memuncak kembali. Ciri khas Teater 45 Perjuangan terlihat kembali, yaitu dengan adegan-adegan komedinya.
Karena lelah tidak mendapat pertolongan, ditambah menerima keluhan Limpung yang menjelek-jelekkannya, si driver akhirnya pergi begitu saja meninggalkan Limpung.
Tidak lama kemudian, datang seorang pengamen yang merupakan wanita penari dari Jawa. Di sini terlihat keapikan Citra, sang aktris yang mampu membawakan logat Jawa yang kental dengan kecepatan berbicaranya yang super. Karakternya sangat menjunjung tinggi derajat wanita sekaligus menunjukkan sensitivitasnya yang tinggi. Penari itu mendapati Limpung yang terkapar dengan sakit yang berlebih. Ia mencoba menolong tapi pikirannya segera berubah akibat kalimat Limpung yang membuatnya tersinggung.
Limpung mencoba menyampaikan bahwa alat kelaminnya kesakitan akibat kelakuan teman-temannya. Tapi, penari itu malah merasa dilecehkan. Belum kelar Limpung memohon-mohon agar si penari menolongnya, tiba-tiba kekasih si penari datang. Gatot Kaca. Terjadilah dialog saling gombal di sini hingga mereka berdua lupa bahwa Limpung masih kesakitan dan masih mengharap pertolongan dari mereka.
C:\Users\Desi\Documents\Bima\Flashdisk\P_20170219_143642.jpg
Di akhir adegan, Limpung berusaha untuk berdiri dan mencoret-coret spanduk di belakangnya. “Kita Semua Bersaudara”, bunyi spanduk itu.
Kompetisi kali ini merupakan tantangan terbaru bagi Teater 45 Perjuangan. Pasalnya, mereka dituntut untuk membawakan drama dengan durasi yang tidak lebih dari 30 menit, tidak seperti biasanya. Mereka selalu terlihat nyaman dengan drama yang berdurasi 1 jam atau lebih.
Maka dari itu, kekurangan pasti terjadi untuk sebuah tantangan baru. Menurut saya, kualitas pementasan Teater 45 Perjuangan kali ini menurun dibanding tahun lalu. Komedi yang dibawakan mereka terkesan lebih anyep untuk pementasan kali ini. Pemain baru juga merupakan tantangan bagi sutradara karena mereka perlu diperkenalkan lebih dalam tentang teater, juga perlu diperkenalkan tentang bagaimana membentuk karakter mereka di atas panggung.
Tapi, driver ojek online merupakan salah satu pemain yang mampu memecah kecemasan penonton akan berkurangnya kualitas teater ini. Banyak orang berkomentar bahwa karakter driver yang judes dengan logatnya yang seperti laki-laki sangat terbentuk dalam dirinya. Posisi kedua adalah Penari Jawa dengan logat tradisional dan dialognya yang diolah sedemikian rupa hingga benar-benar mencerminkan karakternya tersebut. Namun tokoh Gatot Kaca terkesan menutupi konflik dari tokoh utama. Kesakitan yang sudah dibangun oleh Limpung dari awal terkesan hilang ketika Gatot Kaca datang.
Setelah pementasan, masing-masing kelompok teater akan diberikan sesi evaluasi bersama dewan juri yaitu, Yustiansyah Lesmana, Putri Ayudia, dan Malhamang. Menurut Yustiansyah Lesmana, pementasan ini merupakan surprise karena adanya Gatot Kaca. Malhamang mengemukakan bahwa itu bisa diterima karena menggambarkan bahwa di jalan raya memang semua hal dapat terjadi. C:\Users\Desi\Documents\Bima\Flashdisk\P_20170219_150106.jpg
FDPS diikuti oleh beberapa kelompok teater seperti Teater Detik, Teater Embun, Teater Teman, Teater Tabir, dan Teater Bamboe yang membawakan naskah TIK, yang pernah dipentaskan Bengkel Sastra Januari lalu.
Evaluasi yang banyak dari dewan juri membuat niat Teater 45 Perjuangan untuk maju ke Festival Teater SLTA mendatang semakin berkobar. Begitupun dengan kelompok teater lain yang masih haus untuk berkarya di kompetisi selanjutnya.
Masing-masing dari mereka kini sedang menantikan pengumuman pemenang yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2017. Tetap semangat dalam membuat mahakarya, adik-adik. Jangan pernah patah semangat!

Salam Cinta,
Bengkel Sastra

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar