CERPEN: LENCANA



LENCANA


Oleh: Bima Dewanto

A court room sketch is an example of information graphics. This was useful because there are no cameras or recordings in a court room so this helps is view how the trial was like.:
Illustrasi sumber dari Pinterest.
Agak susah mengenakan lencana kebanggan saya pagi ini. Lencana yang setiap hari saya sematkan pada seragam yang dapat memperkenalkan siapa saya. Biasanya, karena sudah terbiasa, lencana itu dapat cepat terpasang dengan kuat di seragam saya. Tapi pagi ini, walau sudah beberapa kali saya mencoba memasukan ujung penitinya ke dalam seragam, tetap saja lencana itu tak dapat terpasang. Tanpa tahu akan berguna atau tidak, saya memasukkan ujung peniti itu ke dalam mulut saya guna membasahinya agar licin dan mudah masuk ke dalam kain seragam. Setelahnya, tanpa ingat bahwa itu adalah benda tajam, saya mencabut peniti itu dengan gegabah dari mulut saya, sehingga ujung peniti itu menggores bibir bawah saya. Cairan merah segera mendesak keluar dari sana. Saya tidak menganggapnya serius, dan hanya segera menindih bibir bawah saya dengan bibir atas agar darahnya tidak semakin banyak keluar.
Kembali saya mencoba memasukkan peniti itu ke dalam seragam saya. Saya hafal di mana saya harus memasukkan peniti itu:  dua jari di atas saku sebelah kiri. Mujarabnya air liur dan darah saya mampu memasukkan peniti itu ke dalam kain seragam. Saya segera melupakan perihal darah yang keluar dari bibir bawah saya, dan bergegas mengambil tas yang terletak di meja rias—tanpa melupakan topi yang menjadi simbol terbaik profesi saya. Kemudian, terdengar suara yang seolah akan memecahkan gendang telinga saya: suara dengkuran seorang lelaki yang masih terlelap dalam mimpinya. Tanpa berpamitan, saya langsung keluar meninggalkan kamar dan berjalan menuju dapur guna mengambil bekal yang telah saya buat sedari pagi sekali.
Saya segera kembali berjalan menuju ruang tengah dan menatap pintu keluar. Jam masih menunjukan pukul tujuh pagi, dan itu berarti saya akan sampai di kantor satu jam lebih awal. Namun, belum sampai saya meraih gagang pintu, suara lelaki tadi memanggil nama saya.
“Risa!” teriaknya dengan suara yang parau.
Saya berbalik badan, menunggunya masuk ke ruang tamu dan menghampiri saya. Setelah bunyi langkahnya mendekat, saya sengaja meletakkan tas yang sudah saya bawa ke atas meja.
“Kamu mau kemana?” tanyanya.
Saya hanya diam menatap tajam ke arahnya.
“Kamu ninggalin uang gak? Saya lagi ngidam kwetiau kayaknya.”
Mata saya masih menatapnya tajam. Kini tubuhnya semakin mendekat, dan tangannya mencoba merangkul saya. Tapi dengan sigap saya segera menepis tangan itu.
“Kenapa?” tanyanya.
Kemudian, saya berbalik badan dan menggenggam gagang pintu untuk segera keluar. Diraihnya tangan saya yang sedari tadi sudah mengambil tas yang saya letakkan di atas meja.
“Kamu kenapa?” tanyanya kembali.
“Kapan kamu bisa ada di posisi saya?” tegas saya dengan memasang wajah tak senang.
“Maksud kamu?”
Sekali lagi, saya muak mendengar setiap suara yang dikeluarkannya. Saya palingkan wajah saya dari pandangannya.
“Kapan kamu mau berhenti tidur, dan bangun untuk menggantikan saya mencari nafkah?”
Ia terdiam sejenak mendengar ucapan saya barusan. Wajahnya yang terlihat bodoh perlahan berubah menjadi kerut yang menunjukkan kekesalan.
“Kapan kamu mau berhenti menuntut saya?” tanyanya mulai kesal. “Saya sudah bilang, tunggu! Tunggu!”
“Sampai kapan?!” bentak saya dengan suara yang bergetar.
Hening.
Saya dan dia, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kami diam layaknya dua pasangan yang baru saja ingin mengucapkan akad. Hanya ada keheningan yang dikelilingi ingatan-ingatan sampah antara saya dan dirinya. Sejak dua tahun lalu ia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai akuntan, hingga sekarang, belum ada sama sekali niatnya untuk mencari pekerjaan baru. Dua tahun, saya menafkahi diri saya dan membuang uang demi lelaki yang mungkin bisa saya anggap sebagai parasit. Saya akan menghargainya jika ia melakukan kegiatan yang positif di rumah. Tapi, apakah membongkar apa yang tidak rusak dapat membuat saya senang?
Saya tidak membayangkan akan berkehidupan seperti ini dengan suami sejak beberapa tahun kami menikah. Saya tidak pernah berharap ia mendapatkan pekerjaan yang mapan dan bergaji besar. Saya hanya berharap, ia bisa mencari uang untuk dirinya sendiri saja, tidak perlu untuk saya. Dua tahun saya menghabiskan gaji saya untuk biaya dapur, sewa rumah, dan makan untuk kami berdua. Boro-boro beli perhiasan, make up, atau baju yang sedang hits untuk wanita seusia saya.
“Saya bilang sama kamu untuk SABAR! Rejeki datang nggak ada yang tahu!” bentaknya kepada saya, membuat air mata saya semakin mengucur deras.
“Emang kamu pikir, cari kerja itu gampang? Kamu pikir saya nggak pusing mikir tiap hari?!”
Saya diam, namun beberapa kali saya menarik napas untuk mencoba mengatakan apa yang ingin saya katakan padanya. Perlahan saya membuka mulut dan mengumpulkan keberanian untuk berucap.
“Saya mau jadi kamu. Nungguin suami pulang ke rumah bawa makanan, tiap bulan belanja, tidur seharian tanpa mikirin siapa yang kerja.” Ucap saya perlahan.
Hening kembali menutupi suasana canggung di antara kami. Tapi kembali saya berucap, mengingatkannya akan masa dua tahun silam di mana ia sedang berada di bawah tekanan, memikirkan statusnya sebagai suami yang tidak bekerja. Saya mengingatkan berapa banyak uang saya yang terbuang untuk menuruti permintaannya yang sama sekali tidak mendorongnya untuk kembali bekerja. Segala yang saya punya diambil. Kalung, gelang, cincin pernikahan, bahkan ponsel yang saya gunakan sehari-hari belum lama ia minta. Alasannya hanya satu, yaitu mencari pekerjaan. Tapi mana hasilnya? Ia hanya diam, walau dengan tetap memasang wajah geram.
Saya selalu berpikir untuk menyudahi semua ini. Saya selalu berpikir untuk memintanya menceraikan saya. Sumpah, lebih baik saya merawat anak kecil yang cacat dibandingkan dengan merawatnya. Kenapa? Bukankah anak yang cacat akan sering mendapatkan santunan? Dibandingkan dengannya, tetangga saja sudah tidak mau mengenalnya.
Banyak tetangga dan kerabat yang seringkali menawarkan pekerjaan kepadanya. Kebanyakan seperti kuli bangunan, sopir, dan pekerjaan dengan upah yang rendah. Tapi ia malah menolaknya mentah-mentah dengan membanggakan jabatannya dulu sebagai akuntan. Belum lagi mulutnya yang besar membanggakan pekerjaan saya sebagai kepala kepolisian daerah setempat. Padahal saya tahu apa yang dipikirkan orang:  “kok malah istrinya yang dipekerjakan, situ ngapain?”
Terlihat ia kembali ingin mengatakan sesuatu. Ia membuka mulutnya perlahan, dan terdengarlah satu kalimat yang membuat pagi saya berantakan.
“Selamat bekerja, sayang.”
Buru-buru saya membalikkan badan dan membuka pintu, kembali menutupnya dengan keras sehingga pintu terbanting tepat di depan wajahnya. Saya berjalan cepat menuju motor yang saya kendarai tanpa mencoba untuk memanaskannya terlebih dahulu. Saya berangkat.
Di motor, saya masih mengingat hal-hal yang mungkin akan membawa mood saya menjadi buruk sepanjang hari. Sebenarnya setiap hari saya merasakan kemalasan suami saya, tapi baru hari ini saya bisa mengungkapkannya. Saya sering menyindirnya baik langsung atau tidak langsung dengan obrolan bersama kerabat yang menyinggung masalah rutinitas malasnya, atau dengan tontonan dakwah yang saya setel setiap pagi. Biasanya di dalam acara dakwah itu ada banyak sesi tanya jawab mengenai tanggung jawab seorang suami. Tapi tak ada gunanya. Mungkin ia hanya ingin mengabaikan, atau memang ia sudah tidak memiliki keinginan untuk memulai kembali karirnya.
Pikiran saya tetap mengambang pada hal-hal mengenai suami saya, hingga saya sampai pada satu persimpangan jalan dan hampir saja menyerempet seorang anak SMA yang hendak berjalan. Saya bunyikan klakson keras-keras, namun ia hanya berpaling dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Kini, saya sudah di kantor. Saya memarkir motor di halaman parkir yang sudah disediakan dan masuk lewat pintu belakang, berjalan menuju ruangan saya dan mengambil segelas air putih di pantry. Belum sempat saya duduk, seseorang mengetuk pintu ruangan saya. Saya tidak pernah melarang siapa pun menemui saya, maka saya segera mempersilakan orang di balik pintu untuk segera masuk.
“Lapor, Dan!” salah seorang polisi yang jabatannya masih di bawah saya masuk dengan wajah cerah, memposisikan tangannya dalam posisi hormat.
“Ya?” tanya saya tegas.
“Kami sudah berhasil menemukan nama-nama karyawan firma yang terjerat kasus narkoba, Dan.”
“Firma yang mana maksud kamu?” tanya saya heran.
Ia langsung membawa saya menuju meja kerjanya. Diperlihatkannya kepada saya sebuah dokumen yang berisi tiga lembar kertas. Saya buka dokumen itu dan terkejut melihat nama perusahaannya.
Saya membaca dokumen itu berulang kali, memastikan apakah ada satu atau dua huruf yang salah saya baca, dan memastikan alamat perusahaan tersebut. Tidak salah lagi, ini adalah perusahannya. Perusahaan yang menafkahi rumah tangga saya selama beberapa tahun. Perusahaan yang dulu menampung suami saya sebagai akuntannya. Siapa yang tidak akan berpikir negatif jika melihat ini? Tiba-tiba timbul pertanyaan dari otak saya, tentang penyebab suami saya diberhentikan dari pekerjannya. Apakah namanya masuk dalam daftar ini?
Kemudian, mata saya menyusuri tabel yang berisi nama-nama tersangka dan jabatannya. Saya telusuri nama-nama itu, memastikan nama suami saya tidak tercantum. Saya benar-benar berulang kali meneliti lembar demi lembar. Hingga lembar ketiga, tidak ada satu pun nama yang mirip dengan nama suami saya. Tidak ada namanya.
Perasaan lega namun masih bertanya-tanya bercampur dalam diri saya. Saya kembalikan dokumen itu kepada polisi tadi. Sebelum saya kembali ke ruangan saya, ia segera kembali menahan saya dan menunjukkan satu berkas lagi.
“Emang perusahaannya banyak masalah, Dan. Semuanya baru terbongkar kemarin.” Katanya.
Ia memberikan satu buah berkas yang hanya berisi satu lembar kertas kepada saya.
“Saya minta tanda tangan, Dan. Kami akan segera melakukan penangkapan terhadap pembunuh atasan perusahaan ini.” Katanya kembali.
Seketika saya kaget bukan kepalang.
“Pembunuhan? Kenapa baru sekarang?” tanya saya dengan memelankan nada bicara saya. Perlahan saya buka isi berkas tadi dan saya baca. Berkas itu masih memuat nama perusahaan yang sama, walau ada satu nama yang tidak tercantum di dalam berkas sebelumnya.
Ketika saya baca, perasaan kaget dan bahagia bercampur menjadi satu. Nama suami saya terpampang jelas beserta jabatan dan alamatnya. Hari ini, penangkapan akan dilakukan. Hari ini, ia akan dipenjarakan. Hari ini, saya akan tinggal sendirian tanpa beban.
Saya berpikir mungkin ia akan dihukum mati. Mungkin ia akan kalah melawan kuasa hukum. Mungkin ia akan mendapatkan karma dari orang yang telah dibunuhnya.
Kini, hanya satu tugas saya. Menahan malu.
Kini, hanya ada saya.

Dan kini, hanya saya.


Jakarta, 26 Januari 2017
Allianz Tower, 29th floor

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar