CERPEN: KOMPETISI MAKSIAT

Kompetisi Maksiat
Bima Dewanto

Ilustrasi oleh Andriani

Coba saja dengarkan kesaksian saya yang katanya bisu ini. Saya adalah jembatan penyeberangan yang dibangun untuk menghubungkan jalan raya yang terpisah oleh sungai. Awal saya dibangun, puluhan pohon telah menjadi korban agar orang-orang dengan mudah melihat saya. Tapi itu dulu, sekitar dua puluh tahun yang lalu. Satu, dua, tiga minggu setelah peresmian memang orang-orang sekitar sini rajin merawat saya. Bahkan setiap enam bulan sekali, tubuh saya dicat agar terlihat mengkilap kembali. Saya juga sudah berganti aspal kurang lebih delapan kali. Saya bahagia ketika diresmikan di mana saya bisa melihat sungai dengan air yang jernih. Hujan yang membentuk pola acak di atas sungai membuat saya merasa damai. Belum lagi hujan itu juga ikut membasahi tubuh saya yang seharian terkena sengatan matahari. Panas, karena tubuh saya didominasi dengan logam.
Saya senang melihat anak-anak yang berlomba-lomba berjalan di pinggiran tubuh saya. Sepeda yang lalu-lalang melewati tubuh saya dengan pengendaranya yang bisa saya rasakan niat baik untuk mencari nafkah. Bahkan saya juga sering terharu melihat beberapa siswa yang bertemu gurunya sedang berjalan di sepanjang tubuh saya. Jabatan tangan yang ikhlas layaknya anak dan orang tua, membuat saya hangat dan bangga bisa dibangun di sini. Jangan lupa juga, percakapan beberapa pejabat desa seperti Pak RT, Pak RW, dan ajudan-ajudannya yang sedang membicarakan pembaruan terhadap tubuh saya. Seperti yang saya bilang tadi, dicat, diaspal ulang, bahkan sempat saya memiliki atap berbahan fiber yang fungsinya membuat teduh orang-orang yang menyeberang.
Tapi kan itu dulu, sebelum satu benalu yang membuat tubuh saya disiram dosa setiap harinya. Bayangkan saja, saya pernah mendapati seorang anak kecil yang bermain dengan teman-temannya. Salah satu di antara mereka membawa sebuah balon yang ditiup terus-terusan tanpa pernah mengikatnya. Setelah itu, datang satu siswa SMA yang melihat anak-anak itu bermain dengan balon yang masih ditiupnya bergantian sekarang. Siswa itu memperhatikan dengan teliti apa yang sebenarnya ditiup.
“Eh jorok! Itu kan bekas burung!” kata siswa itu sambil menunjuk tengah-tengah selangkangannya.
Anak-anak itu tidak tahu apa yang dimaksud oleh si siswa SMA. Tapi mendengar kata jorok, balonnya langsung dibuang saja di tubuh saya. Setelah balon itu menyentuh tubuh saya, ternyata saya paham apa yang dimaksud siswa SMA tadi.
Nah yang saya bilang benalu tadi, pohon yang dua puluh tahun lalu ditebang untuk membangun saya kini sudah tumbuh lebat kembali. Jangankan menebang, melirik saja sudah tidak ada yang mau. Akibatnya, tubuh saya jadi terhalang dedaunan yang lebat. Orang-orang akan takut melewatinya. Tapi, tidak jarang juga orang yang memanfaatkan fisik saya yang sulit terlihat. Misalnya saja waktu itu ketika seorang perempuan dengan jaket kulit tebal, namun di kakinya tidak ada sehelai kain pun sedang menunggu seseorang di pinggiran tubuh saya. Tidak lama, suara mobil yang dimatikan terdengar dari sini. Lalu penumpangnya turun, seorang lelaki dengan hanya mengenakan kaos polo dan celana pendek datang menghampiri perempuan yang sedang berdiri di sini. Saya mendengar perdebatan kecil di antara mereka. Si perempuan berkata, “Habis keluar di dalam! Saya gak mau tau!”
Sedangkan yang lelaki hanya mengucapkan kata sabar yang saya dengar tak terhitung. Kemudian lelaki itu pergi dengan melemparkan sebuah amplop coklat yang mungkin berisikan sejumlah kertas di dalamnya. Ketika ia melangkahkan kakinya kembali menuju mobil, ia terhenti sejenak, memutar tubuhnya untuk meneriakkan sesuatu kepada perempuan itu.
“Jangan hubungi saya!” katanya.
Setelah itu, saya tidak pernah melihatnya lagi. Tapi perempuan itu, masih sering berdiri di tubuh saya setiap malam yang tidak tentu. Saya melihat lelaki yang berbeda menemuinya di setiap malam. Kadang tangan para lelaki yang menemuinya suka nakal. Yang bisa membuat saya mual adalah ketika jari-jemarinya menari di atas kedua dada perempuan itu. Belum lagi suara desahannya yang membuat telinga saya sakit. Tapi yang paling saya benci adalah ketika mereka berdua meletakkan tubuhnya masing-masing di atas tubuh saya. Ah! Saya muak! Sudah! Sudah!
Saya ceritakan saja yang lain, kali ini mungkin lebih berbahaya. Kalau tidak karena pohon yang menutupi saya, mungkin kejadian ini tidak sampai terjadi. Kejadiannya ketika malam menjelang pagi. Saya tidak tahu persis itu pukul berapa. Terdengar suara ribut antara pria dan wanita, dan suara tangis bayi. Seorang wanita berlari hendak menyeberangi tubuh saya. Tapi baru saja sampai pertengahan, ia terjatuh sehingga lelaki yang mengejarnya bisa menarik rambutnya yang terurai. Tangisan bayi yang dipertahankannya menangis semakin keras akibat tekanan perempuan yang terjatuh tadi. Kini suara tangisan bayi itu diikuti oleh tangisan perempuan yang saya kira ibu dari sang bayi. Meneriakkan ampun yang tidak kunjung henti. Kemudian saya rasakan langkah lelaki yang mengejarnya menghentak semakin keras. Mencoba merebut bayi itu dari tangan ibunya, tapi perempuan itu kuat. Saya kasihan melihat si jabang bayi yang menjadi bahan rebutan. Saya kira mereka adalah sepasang suami istri yang bercerai dan merebut hak asuh si jabang bayi. Tapi dugaan saya salah.
Setelah lelaki itu berhasil merebut bayi dari tangan ibunya, ia menggendong sambil mendendangkan lagu pengantar tidur. Memerintahkan si bayi untuk segera tidur dalam lelap. Kelihatan manis memang seorang ayah yang mencoba menidurkan anaknya. Tapi memang dasar bayi, tangisannya tidak berhenti, malah semakin menjadi-jadi. Nada lembut si lelaki pun mendadak berubah menjadi bentakan keras terhadapnya. Sontak saya kaget melihat kejadian ini. Saya tidak habis pikir, lelaki itu malah melemparkan bayinya hingga terbawa arus sungai. Bayi itu mengalir secara cepat hingga saya tidak bisa melihat bahkan mendengar tangisnya lagi. Setelahnya, kini giliran sang istri yang menjadi antrean selanjutnya. Ia memutuskan sebuah tali yang terikat pada salah satu tiang atap di tubuh saya. Lalu melilitkan tali itu di leher sang istri.
Tangisan istri yang semula melengking tidak karuan kini berganti dengan suara sesak napas. Matanya terlihat memerah dengan urat yang terlihat tajam dari leher hingga pelipisnya. Saya kira ini akan menjadi tontonan yang lama. Tapi ternyata beberapa menit kemudian, seluruh tubuh sang istri mendadak terlihat seperti orang yang tidak memiliki tulang. Tubuhnya langsung jatuh seperti tidak ada lagi energi yang ia simpan. Mati.
Kemudian seperti biasa, saya tidak pernah melihat lelaki itu kembali lagi melewati tubuh saya. Tapi semenjak kejadian itu, saya seperti tidak sendirian. Saya merasakan ada jiwa lain yang seharian penuh singgah di tubuh saya. Mungkin arwah sang istri tadi. Jika saya bisa berbicara dengan sungai, mungkin saya akan menanyakan kabar si jabang bayi yang dibuang itu. Dan setelah kejadian itu pula, tubuh saya jauh lebih jarang dilewati oleh warga sekitar daripada sebelumnya. Mungkin kabarnya sudah sampai kepada warga bahwa telah terjadi pembunuhan di sini. Tapi justru malah orang-orang yang jarang sekali saya lihat sering melewati tubuh saya untuk berhenti sejenak. Bahkah tidak jarang juga yang tidak menyeberang.
Saya merindukan sosok Pak RT yang dulu sering membicarakan soal biaya perawatan tubuh saya. Saya mendambakan tubuh yang bersih kembali. Rasa tidak nyaman dengan tulisan dan gambar-gambar aneh yang dicoret-coret di sekitar tiang. Kini, kebanyakan penduduk sudah menggunakan mobil ke mana-mana. Membuat saya jarang dilewati karena ukuran tubuh saya yang tidak muat untuk jalanan mobil. Mungkin Pak RT juga sudah menggunakan mobil.
Saya rasa, ini adalah saatnya saya undur diri menjadi salah satu fasilitas untuk warga. Saya sudah muak. Sudah jijik. Terlalu banyak dosa yang tinggal di tubuh saya sehingga besi-besi ini sudah tidak mampu lagi menahannya. Akhirnya saya memutuskan untuk bunuh diri saja. Tidak lama setelah saya mendapati Pak RT yang sedang melaju dengan mobilnya melewati jalan raya. Ketika itu ia berhenti dan turun dari mobilnya, bersama seorang anak laki-laki berseragam SMP.
Awalnya saya pikir, itu adalah putranya. Pak RT berjalan dengan menggandeng anak tersebut mendekati tubuh saya yang sedang sibuk-sibuknya menahan dosa yang sudah melebihi kapasitas. Ketika keduanya telah sampai di sebuah tempat yang teduh dengan akar pohon yang menjalar-jalar masuk ke tubuh saya, anak laki-laki itu diperintahkan untuk jongkok. Sementara Pak RT asik bersandar pada salah satu tiang atap di tubuh saya.
Lama-lama saya curiga dengan apa yang mereka berdua lakukan. Dan saya sadar bahwa anak itu bukanlah anak Pak RT, melainkan selingkuhannya. Saya mencari dosa yang serupa dengan yang dilakukan oleh kedua orang itu, dan saya menemukannya banyak sekali bertumpukan di tubuh saya. Kalau saya biarkan Pak RT dan bocah laki-laki selingkuhannya itu berbuat yang sama, tubuh saya akan semakin berat menahannya.
Daripada saya lelah mempertahankan dosa-dosa yang sudah menumpuk di tubuh saya, saya biarkan saja seluruh tubuh saya terbelah menjadi dua sehingga masing-masing belahan menyentuh dasar sungai. Saya cemburu dengan tingkah Pak RT. Bukannya mencoba untuk meremajakan saya kembali, malah asik dengan selingkuhannya yang tak wajar itu. Saya ajak saja keduanya bunuh diri dengan memutuskan pangkal tubuh saya sehingga mereka berdua terjatuh ke dasar sungai. Lalu, tubuh saya jatuh secara utuh menimpa keduanya.


Allianz Tower 29th Floor


6 Februari 2017

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar