Bukan Sekadar “Go Tun”, Teater Zat Sukses Pentaskan “Ben Go Tun”

Oleh Adi Kurniawan

Menyambut ulang tahunnya yang ke-22, Teater Zat, salah satu komunitas yang lahir di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, mengadakan sebuah pementasaan akbar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Pementasan pada malam 29 Januari 2017 tersebut terbilang cukup sukses, hal ini terlihat dari penonton yang tetap duduk nyaman selama kurang lebih dua jam tiga puluh menit durasi pementasan. Terlebih, dalam pementasan tersebut Teater Zat membawakan naskah “Ben Go Tun” yang merupakan naskah realis karya Saini K. M. di tahun 70-an. Resiko kejemuan penonton saat pementasan berlangsung dapat saja menjadi sangat tinggi jika Teater Zat tidak membawakannya dengan apik.


Naskah “Ben Go Tun” adalah naskah satir, yang mana di dalamnya menceritakan wujud-wujud kepalsuan dari jati diri masing-masing tokoh. Siapa sangka, tokoh yang mengaku seorang veteran hebat, bernama Johan Budiman adalah seorang pecundang yang mengarang cerita supaya namanya bisa terkenal di media massa. Dalam usahanya, Johan Budiman rela melakukan apa saja agar niatnya tersebut tercapai. Keinginan yang menggebu-gebu dari seorang Johan Budiman akhirnya dimanfaatkan oleh seorang wartawan yang pandai membuat kebohongan, dan Johan Budiman dapat dengan mudahnya diperas oleh wartawan tersebut dengan iming-iming namanya bisa terkenal di media massa. Merasa ditipu, akhirnya Johan Budiman menyuruh pembantunya untuk mencarikannya dukun agar bisa membalas dendam kepada wartawan tersebut. Kepalsuan berantai pun berlanjut, ternyata dukun yang diutus adalah dukun gadungan yang hanya ingin memanfaatkan situasi Johan Budiman. Namun akhirnya semua kepalsuan terbongkar dengan salah satu tokoh berpakaian militer, yang memaksa semuanya untuk mengakui kesalahan masing-masing tokoh. Merasa terdesak, akhirnya satu-persatu tokoh mulai mengakui kesalahannya masing-masing. Namun siapa sangka, tokoh berpakaian militer yang membuat semua kepalsuan terbongkar adalah seorang pasien rumah sakit jiwa? Ia mencuri pakaian militer tersebut dari tokoh tukang penjahit.


Naskah “Ben Go Tun” menggambarkan serta mengajarkan kita untuk tidak hanya melihat sesuatu dari bentuk fisiknya. Seperti halnya pepatah mengatakan “Don’t Judge A Book By it’s Cover” -- Banyak pesan-pesan yang terkandung dalam naskah ini. Sang sutradara, Ipih Sopani tampak serius dan konsisten dalam menggarap pementasan realis berlatar tahun 70-an itu. Bagi saya yang belum pernah mencicipi hidup di tahun 70-an tentu saja mendapatkan gambaran cukup jelas tentang suasana di tahun tersebut lewat sandiwara para pemain, juga setting panggung yang dibuat. Hal pertama yang mencuri perhatian saya ketika tirai merah dibuka dan pementasan dimulai adalah setting panggung yang ditata sedemikian rupa sehingga suasana realis yang diciptakan di atas panggung berhasil sampai ke bangku penonton. Saya pun mengagumi bagaimana seluruh properti di atas panggung digunakan dengan sangat tepat, dalam hal ini tentu saja kerja keras tim properti Teater Zat dalam pementasan “Ben Go Tun” pantas diacungi dua jempol.


Setelah puas melihat suguhan setting panggung, kemudian mata saya dimanjakan oleh kelihaian para pemain dalam pementasan “Ben Go Tun”. Konsistensi realis dipertahankan lewat sandiwara para pemainnya. Salah satu pemain yang mencuri perhatian selama pementasan berlangsung adalah tokoh Johan Budiman yang dengan keluwesannya mampu mengelabui penonton, sehingga saya pun hampir percaya barangkali bapak Johan Budiman memang seorang veteran. Sungguh sangat realis.


 Tokoh yang kemudian tidak kalah membuat saya kagum adalah tokoh penjaga warung yang bernama Amat. Bisa jadi bukan hanya saya, namun penonton lain pun akan dengan mudah memberikan perhatian kepadanya lewat keluguan yang diciptakan dalam memerankan sosok mojang Sunda. Terlebih gelak penonton semakin menjadi-jadi ketika tokoh pemain musik 1, 2 dan 3 mulai muncul diatas panggung. Sampai di sini dapat saya katakan bahwa hampir seluruh tokoh yang ada dalam pementasan berhasil menciptakan karakter yang kuat, sehingga perhatian penonton terus tertuju pada pementasan realis dengan durasi dua jam tiga puluh menit tersebut.



  Tidak ada kekurangan yang berarti selama jalannya pementasan. Untuk teater dengan usia yang tidak lagi muda, saya pikir Teater Zat telah berhasil menciptakan karya yang bukan hanya sekadar bernilai “go tun” (receh), namun berkualitas dan bernilai seni. Selamat ulang tahun yang ke-22 untuk Teater Zat. Terus berkarya!

Foto diambil oleh Putri Azka Gandasari

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar