Mencari (Menemukan) Yang Hilang - Sebuah Catatan Aktor

Proses tak akan mengkhianati hasil, katanya. Dan “TIK,” pasti akan terus melekat dalam benak, karena penggarapannya yang hanya memakan waktu dua bulan. Tak ada keterpaksaan dan kami semua senang menjalaninya. Bahkan proses ini kerap dijadikan eskapisme dari penat kesibukan kuliah. Jika kami sudah memakai celana latihan dan menjejaki paving block Teater Terbuka, seketika segala beban mengasap, lebur dari ubun-ubun kami. Terlebih, anggota keluarga baru telah hadir, mengisi sepi yang bertahun mengendap.


Pemilihan naskah memakan waktu yang cukup panjang, hingga akhirnya sutradara memutuskan untuk memakai naskah “TIK,” oleh Budi Yasin Misbach, sebuah naskah komedi satir. Tentu itu hal yang sudah tak asing lagi, karena mementaskan komedi satir adalah salah satu favorit kami. Naskah kemudian disadur oleh sutradara dan astrada, untuk menyesuaikan cerita dan jumlah aktor. Proses reading terbilang sebentar, karena casting harus segera dilakukan. Dari casting tersebut, terpilihlah 12 aktor, yaitu Diah Ayu Wardani (Petugas 1), Trisda Yuliana (Petugas 2), Bima Dewanto (Petugas 3), Adi Kurniawan (Wardana), Fatimah (Minah), Rio Tantowi (Jhon), Malika Tazkia (Seseorang 1), Annisa Anastasya (Seseorang 2), Andriani dan Siti Imtitsalul (Koor), Ichsan Abimaya (Haji Komar), dan Bagus Dwiyoga (Komandan).

Sebagai aktor, saya dapat melihat latihan dari perspektif panggung. Saya dapat merasakan secara langsung perkembangan aktor-aktor dari interaksi yang saya lakukan bersama mereka. Untuk waktu dua bulan, perkembangan beberapa aktor sangat terlihat, walaupun ketidakseriusan yang tidak semestinya ada kerap kali dilakukan di panggung, maupun di wing. Pun, perkembangan itu terasa sedikit demi sedikit, fluktuatif, terkadang stagnan, dan kualitas blocking masih kerap dipengaruhi mood kami pada saat itu. Hal yang paling menjadi kendala adalah: sutradara sangat sulit menggarap aktor secara lengkap karena setiap hari pasti ada aktor yang berhalangan, entah karena kendala kesehatan atau kendala yang lain. Ini membuat suasana panggung tidak kunjung cukup terbangun.


Sutradara kemudian menambah adegan awal untuk melengkapi konsep panggungnya, dan terpilihlah lima aktor tambahan, yaitu Syifa Fauziah (Pelapor), Milah Nuraini (Pelapor), Intan Uswatun Hasanah (Pelapor), Fauziannisa (Petugas 4), dan Amelinda Ruby (Pembawa Minuman). Blocking dengan aktor yang lengkap menjadi semakin sulit. Belum lagi muncul kendala yang dirasakan stage manager, yaitu kesulitan menata panggung akibat sulitnya mengambil properti.

Evaluasi demi evaluasi kami lakukan setiap hari, walaupun banyak hal-hal yang tidak semestinya kerap kali terulang di atas panggung.  Seperti adegan satu yang monoton, penguasaan emosi yang tidak konsisten, vokal dan artikulasi yang kurang, respon yang lambat dalam pergantian dialog, dan sebagainya. Hingga konsep tim musik dan tim pencahayaan telah rampung dan pekerjaan tim artistik sudah nyaris rapi, kesalahan di atas panggung masih saja terjadi. Tapi saya benar-benar optimis melihat perkembangan para aktor yang saya lihat. Saya berpikir bahwa pementasan ini akan keren, betapapun banyaknya kendala yang ada.


Karena pementasan ini dilaksanakan pada saat UAS sudah benar-benar selesai, kami sangat leluasa menata panggung sejak pagi. Biasanya setiap menata panggung, kami akan pulang larut malam. Namun, kali ini, H-1 pementasan, kami dapat pulang lebih awal untuk beristirahat. Pun kami leluasa melanjutkan penataan panggung pada hari H sejak pagi hari, sehingga pekerjaan dapat rapi tepat pada waktunya.

Inilah salah satu alasan kami mencintai hari pementasan: keajaiban bertubi datang di atas panggung. Gladikotor dan gladibersih yang kami lakukan tidak bisa dibilang bagus, bahkan kesalahan fatal masih terjadi, membuat kerisauan semakin menggumpal. Namun, begitu pementasan dimulai, rasa tenang yang terasa tidak wajar saya rasakan saat berdiri di wing. Debar yang ada justru memicu semangat kami. Saya mengerti betul apa yang dirasakan oleh angkatan baru: pentas perdana. Wing tidak bisa benar-benar sunyi karena antusiasme mereka mengintip penonton dari balik backdrop. Kemudian, entah mengapa kesalahan-kesalahan yang kerap kami lakukan pada saat latihan tidak terjadi di atas panggung. Adegan awal berjalan dengan sangat mulus dan aktor-aktornya terlihat sangat menikmati permainan mereka. Kekurangan-kekurangan dalam pementasan terbilang tidak fatal, dan penonton terlihat menikmati. Untuk sebuah pementasan perdana angkatan baru, pementasan ini sangat layak ditampilkan.


Kami akan merindukan “TIK,”. Kami akan merindukan Wardana dan para pemulung yang berjuang menagih hak rakyat kecil. Kami akan merindukan barisan SANS (Satuan Keamanan Sekitar). Kami akan merindukan lagu-lagu yang mengiringi kami. Rupanya, setelah “mencari apa yang hilang” di panggung, kini kami telah menemukannya: apa yang ada di atas dan belakang panggung telah utuh, dan Bengkel Sastra akan kembali menyampaikan banyak pesan melalui pementasan-pementasan yang akan datang.


Kami akan merindukan proses ini.

[Tonton aktivitas kami di balik panggung "TIK," di sini]


-Malika Tazkia

Bengkel Sastra

1 komentar: