Film: Istirahatlah Kata-Kata, Wiji Thukul dalam Sinema

Judul Film       : Istirahatlah Kata-Kata
Genre              : Drama, Biografi
Produser          : Yosep Anggi Noen, Yulia Evina Bhara, Tunggal Pawestri, dan Okky Madasari
Sutradara         : Yosep Anggi Noen
Penulis            : Yosep Anggi Noen
Produksi          : Muara Foundation, Kawan Kawan Film, Partisipasi Indonesia, dan Limaenam Films
Pemain            : Marissa Anita, Melanie Subono, Eduwart Boang, Dhafi Yunan, Joned Suryatmoko, dan Gunawan Maryanto







Film Istirahatlah Kata-Kata yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen dirilis pada tanggal 19 Januari 2017. Film ini menceritakan tentang pelarian Wiji Thukul karena status barunya sebagai buronan. Fokus film ini memang kepada Wiji Thukul sebagai buronan. Sesekali, perihal kondisi politik dibahas di dalam film ini, tetapi sekedar lewat pembicaraan singkat atau siaran radio. Pemaparan situasi politik dan negara berfungsi memperkuat latar saja, bukan berfungsi sebagai fokus utama.

Kehidupan Wiji Thukul yang sepi dan sunyi sebagai buronan penguasa orde baru dimulai dengan pelariannya ke Pontianak. Hal ini digambarkan dengan jitu dalam film ini. Pengalamannya beberapa bulan berada di Pontianak dan berada jauh dari keluarga dan tanah asalnya digambarkan dengan membosankan. Dalam kebosanannya, ia berusaha berkarya dengan menulis puisi dan cerpen dengan menggunakan nama pena lain. Kebosanannya bercampur dengan kesedihan karena harus terpisah dengan sang istri dan kedua anaknya. Film ini mengingatkan kita bahwa hal yang paling kejam dari kekuasaan despotik adalah menciptakan kesunyian dan keterasingan.


Film ini tidak dibungkus sebagai kisah inspiratif, melainkan ditampilkan dengan cara mengisahkan kesunyian seakan merefleksikan pertanyaan yang hadir di kehidupan nyata tentang hal yang dialami Wiji Thukul hingga membuatnya kini menghilang tak berbekas.


Di Solo, Sipon (istri Wiji Thukul) hidup bersama kedua anaknya. Sipon ditekan, rumah diawasi polisi, koleksi buku-buku disita, dan beberapa kali Sipon digelandang ke kantor polisi untuk diinterogasi. Anak Wiji pun ikut diinterogasi dengan pertanyaan kapan bapaknya pulang dan dimana keberadaan bapaknya.


Dalam kebosanannya di Pontianak, Wiji berusaha menghibur dirinya dengan berjalan-jalan menaiki perahu. Pada saat itu, ia memuji para pengejarnya karena secara tidak langsung mereka telah mengajarkan anak-anaknya mengenai sesuatu yang berharga. Ia pun merasakan kerinduan kepada keluarganya. Ia ingin kembali ke tanah asalnya untuk bertemu istri dan kedua anaknya.


Wiji pun kembali ke Solo dan bertemu dengan istri dan kedua anaknya. Sipon bingung harus merasa sedih atau senang atas kepulangan Wiji. Ia ingin Wiji pulang ke rumah, tapi disisi lain ia tak ingin Wiji pulang ke rumah karena takut jika Wiji tertangkap. Hari-hari yang dialami Wiji di Pontianak menjadikannya semakin kuat yang membuatnya membulatkan tekad untuk menghancurkan penguasa.


Pada bulan Maret 1998, serangkaian operasi penculikan dilakukan oleh Tim Mawar Kopasus. Puluhan aktivis diculik, ditahan, dan disiksa di berbagai penjara yang tersembunyi. Sebagian dari mereka dibebaskan setelah disiksa habis-habisan oleh Tim Mawar, tetapi sebagian lagi tetap menghilang tak berbekas. Dalam operasi penghilangan tersebut, Wiji Thukul turut menghilang tak berbekas hingga sekarang.

Film ini memberitahukan bahwa pernah ada masa jika seseorang bersuara keras, maka akan ditindak tegas. Dalam hal ini, kata-kata dapat menjadi mimpi buruk bagi penguasa despotik.


-Alma Agustin

Bengkel Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar